Jakarta, Aktual.com – Pengamat agama Islam dan budaya dari Universitas Indonesia Yon Machmudi, menilai Indonesia akan menjadi kuat dan stabil jika tiga pilar kekuatan sosial politik di Indonesia dapat bergabung dan solid.
“Ketiga kekuatan tersebut adalah kaum nasionalis, santri, dan militer. Jika ketiga kekuatan tersebut bergabung menjadi satu, maka Indonesia akan stabil,” kata Yon Machmudi melalui pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (1/8).
Menurut Yon Machmudi, merapatnya Partai Demokrat ke Partai Gerindra dipastikan dapat memperkuat kekuatan oposisi yang telah dibangun oleh Partai Gerindra dan PKS. “Apalagi, jika ditambah Partai Amanat Nasional (PAN), pasti akan semakin kokoh,” katanya.
Dalam pandangan Yon, Partai Gerindra dan Partai Demokrat mewakili kekuatan nasionalis, sedangkan kelompok agamis diwakili PKS dan PAN, serta figur militer ada pada ketua umum Partai Demokrat dan Partai Gerindra. “Bersinerginya PAN dan PKS, akan menarik konstituen muslim perkotaan,” katanya.
Terkait usulan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) dari koalisi empat partai politik tersebut, menurut Yon Machmudi, Partai Gerindra sebagai pemimpin koalisi dapat dipastikan mengusung Prabowo menjadi capres.
Lalu siapa cawapresnya? “Ini yang mungkin membuat Prabowo galau. Padahal pasangan nasiobalis agamis sampai saat ini masih relevan dalam budaya politik Indonesia,” katanya.
Doktor alumni The Australian National University ini menambahkan, dalam hitung-hitungan siapa pasangan Prabowo, jika dipasangkan dengan kader dari ketiga partai politik mitra koalisi, maka akan ada plus-minusnya.
Jika Prabowo berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) cukup menarik tapi diprediksi tidak mampu mengangkat elektabilitas Prabowo secara signifikan sehingga berpotensi gembos. Jika Prabowo berpasangan dengan Zulkifli Hasan kemungkinan akan mengulang pilpres 2014 lalu.
Pilihan lain, kata dia, adalah Prabowo berpasangan dengan Salim Segaf Al Jufri seperti yang diusulkan Ijtima’ Ulama. “Pasangan Probowo-Salim walaupun saat ini elektabilitasnya masih biasa-biasa saja tetapi berpotensi untuk naik cepat dan mengancam posisi Jokowi di pilpres 2019,” katanya.
Menurut Yon, figur Salim ini agak unik, karena tidak hanya mewakili PKS tapi juga merupakan sosok yang lahir dari tradisi Al Khairat yang punya jaringan luas di Indonesia Timur. “Hadirnya Salim akan melengkapi kekurangan Prabowo,” kata Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia ini.
Pasangan Prabowo-Salim, kata dia, menjadi lebih efektif jika koalisi menempatkan AHY sebagai juru bicara atau ketua tim pemenangan capres-cawapres, sehingga menjadi panggung besar bagi AHY dalam memperkuat citranya ke depan. “Pemenangan pilpres akan semakin kuat jika didukung oleh PAN yang memiliki pemilih rasional,” katanya.
Ant.
Artikel ini ditulis oleh:

















