Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko perekonomian) Airlangga Hartarto menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pernyataan itu disampaikan menyusul sorotan lembaga pemeringkat global Fitch Ratings terhadap potensi tekanan fiskal dari implementasi program tersebut.
Airlangga mengatakan berbagai studi internasional menunjukkan program pemenuhan gizi anak dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan jika dijalankan secara luas dan berkelanjutan.
“Kalau beberapa studi dari World Bank maupun Rockefeller Foundation menunjukkan bahwa dengan pelaksanaan MBG yang masif dan baik, investasi 1 dolar bisa menghasilkan 7 dolar,” kata Airlangga usai acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menurut dia, temuan tersebut menunjukkan bahwa belanja untuk program gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga berkontribusi terhadap produktivitas ekonomi di masa depan. Karena itu, pemerintah memandang program MBG sebagai langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Airlangga menambahkan sejumlah negara juga telah menjalankan kebijakan serupa untuk meningkatkan kualitas generasi mudanya.
“Ini adalah sebuah investasi. Banyak negara melakukan itu, bahkan Amerika Serikat juga menjalankannya. Jadi ini merupakan tantangan jangka panjang dan menengah yang tidak bisa kita hilangkan hanya karena pertimbangan jangka pendek,” ujarnya.
Terkait sorotan Fitch terhadap program tersebut, pemerintah menyatakan belum akan meninjau ulang kebijakan MBG karena implementasinya masih berada pada tahap awal. Program itu akan terus dijalankan secara bertahap sembari memperluas cakupan penerima manfaat.
“MBG ini kan baru berjalan, jadi kalau berjalan ya terus kita roll out,” kata Airlangga.
Di sisi lain, ia memandang revisi outlook dari Fitch sebagai pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi, khususnya dari sisi penerimaan negara. Salah satu langkah yang didorong adalah implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax di Kementerian Keuangan guna meningkatkan rasio pajak.
Sebelumnya, Fitch merevisi prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta potensi tekanan fiskal, termasuk dari belanja sosial seperti program MBG yang diperkirakan mencapai sekitar 1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada periode 2025–2029. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB atau masih berada dalam kategori investment grade.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi















