Jakarta, aktual.com – Warga di lebih dari 50 kota di Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu turun ke jalan untuk memprotes serangan AS-Israel terhadap Iran, seiring serangan militer mematikan itu memasuki pekan kedua.
Xinhua melaporkan, Senin, para demonstran di seluruh penjuru negeri berkumpul dan berpawai di kota-kota besar AS, termasuk New York, Washington DC, Los Angeles, Chicago, Pittsburgh, dan San Francisco, menuntut agar pemerintahan Trump mengakhiri perang tersebut.
Di Manhattan, New York City, ratusan orang berkumpul di Union Square pada Sabtu (7/3) sore waktu setempat, meneriakkan slogan-slogan seperti “Ancaman Terbesar di Dunia Saat Ini: Donald Trump dan AS” dan “Trump Bilang Lebih Banyak Perang, Kami Katakan Hentikan (Perang)”, serta membawa penanda yang bertuliskan “Jangan Sentuh Iran”, “Tidak Ada Perang Baru AS di Timur Tengah”, dan “Uang untuk Kebutuhan Rakyat, Bukan untuk Perang dengan Iran”.
“Ini perang yang tidak adil. Ini perang penggulingan rezim lainnya, yang biasanya berasal dari alasan yang jelas-jelas korup seperti perluasan wilayah, pada dasarnya menjajah negara lain, mengambil keuntungan dari mereka,” kata Maya, salah satu demonstran di alun-alun tersebut, kepada Xinhua.
Maya menyebut, perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
“Dari apa yang saya lihat, kami menghabiskan satu miliar dolar AS (1 dolar AS sekitar Rp16.919) per hari untuk perang ini, sementara kami sedang menghadapi krisis. Jadi jelas uang itu seharusnya digunakan untuk warga negara AS. Uang itu dapat digunakan untuk perawatan kesehatan, perawatan anak yang lebih baik, transportasi umum, apa pun kecuali untuk perang ini,” tutur dia.
Sementara itu, demonstran lain bernama Andre Easton menyebut dua partai besar AS, Partai Republik dan Demokrat, memalukan karena tidak dapat menghentikan perang tersebut.
“Sistem saat ini tidak mampu menghentikan serangan dan pertumpahan darah yang terus berlanjut. Kami melihat bagaimana Kongres, baik Partai Demokrat maupun Partai Republik, tidak mampu meloloskan resolusi Kekuatan Perang yang seharusnya dapat menghentikan perang ini. Memalukan,” kata Andre Easton yang berasal Bronx, New York City.
Di Los Angeles, ratusan orang berkumpul di depan Balai Kota pada Sabtu (7/3) sore sambil mengibarkan bendera Iran dan meneriakkan slogan-slogan seperti “Mengebom Iran adalah kejahatan”.
Sejumlah demonstran mengatakan kepada Xinhua bahwa perang yang dilancarkan AS dan Israel telah menghancurkan perdamaian regional dan membawa penderitaan mendalam bagi rakyat Iran.
“Perang ini adalah pengalihan perhatian dari dokumen Epstein, dan mereka membunuh warga sipil tanpa alasan,” tutur seorang demonstran anonim dari Los Angeles, seraya menyerukan kepada orang-orang untuk bersuara demi perdamaian dan menolak perang tanpa akhir lainnya.
Keputusan perang AS di Iran bukan hanya diprotes oleh demonstran, tetapi juga warga biasa yang tidak terbiasa dengan unjuk rasa.
“Saya tidak datang untuk mengikuti aksi unjuk rasa. Namun saya melihatnya dan saya merasa harus ikut dan mendukung mereka. Menurut saya, perang ini mengerikan. Kami mengetahui ini hanya menguntungkan dia (Presiden AS Donald Trump-red) secara pribadi, bukan negara dan rakyat kami Sayangnya, ini justru menempatkan kita dalam bahaya lebih besar.”
“Kita sudah memiliki begitu banyak cerita, begitu banyak sejarah tentang pergi ke negara lain dan menyakiti orang lain tanpa manfaat apa pun bagi AS. Dan sungguh mengerikan bahwa kita tidak dapat belajar dari pelajaran masa lalu,” tutur seorang warga New York, Maggie Morales.
Mereka juga mendesak Kongres untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan mesin perang tersebut.
AS dan Israel memulai serangan skala besar terhadap Iran sepekan lalu, memicu serangan rudal dan drone balasan dari Iran terhadap Israel dan aset-aset AS di seluruh Timur Tengah. Eskalasi militer yang sedang berlangsung telah meningkatkan ketegangan regional dan memicu efek limpahan global.
Aksi tersebut memunculkan kecaman dari berbagai negara. Banyak negara menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan menjerumuskan seluruh Timur Tengah ke dalam kekacauan.
Pemboman di Sekolah Perempuan, Dubes AS di PBB Akui Kesalahan Tragis
Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menyebut pemboman mematikan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran selatan sebagai kesalahan tragis yang dapat terjadi dalam operasi militer, tanpa secara langsung menyalahkan pihak tertentu.
“Amerika Serikat melakukan segala yang bisa untuk menghindari korban sipil. Namun terkadang, tentu saja, kesalahan tragis bisa terjadi,” katanya kepada ABC News dalam wawancara yang ditayangkan, MInggu (8/3).
Saat ditanya lebih lanjut mengenai hasil penyelidikan yang dilakukan The New York Times yang menyebutkan bahwa AS bertanggung jawab atas serangan tersebut, Waltz mengatakan ia akan menyerahkan hal itu kepada para penyelidik untuk menentukannya.
Sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, terkena serangan pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut 171 siswi sekolah wafat dalam pengeboman yang oleh Teheran diduga dilakukan oleh AS dan Israel.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (7/3) mengatakan bahwa berdasarkan hal-hal yang ia saksikan, Trump menyebut “hal tersebut dilakukan oleh Iran”.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi






















