Jakarta, Aktual.com – Pengamat pasar modal Hans Kwee, menyarankan investor mencermati saham-saham sektor komoditas di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan melonjaknya kebutuhan bahan baku industri teknologi. Perkembangan tersebut diperkirakan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas strategis seperti emas, nikel, dan batu bara.
Menurutnya, Indonesia berada dalam posisi yang diuntungkan karena memiliki cadangan sumber daya alam yang besar dan menjadi kebutuhan utama industri global. Kondisi ini membuat sejumlah emiten tambang di pasar saham domestik berpotensi memperoleh manfaat dari perubahan tren ekonomi dunia.
“Sekarang kan booming komoditas, nikel ada di sini, timah ada di sini, emas ada di sini, batu bara juga ada. Ini semua resources yang berpotensi naik karena perkembangan AI,” kata Hans saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan arus investasi global kini mulai bergeser dari pendekatan berbasis negara menjadi berbasis sektor. Investor cenderung mencari sektor-sektor yang diuntungkan oleh perubahan struktur ekonomi global.
Salah satu pendorong perubahan tersebut adalah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pembangunan pusat data dan infrastruktur digital membutuhkan energi besar serta berbagai bahan baku industri.
Kebutuhan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas, terutama logam industri dan sumber energi. Negara yang memiliki cadangan komoditas besar, seperti Indonesia, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat investor global.
Selain itu, Hans juga menyoroti tren kenaikan harga emas yang diperkirakan masih berlanjut dalam jangka panjang. Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global turut mendorong sejumlah negara meningkatkan cadangan emas.
“Lihat harga emas naik tinggi, dan ini masih naik terus karena dunia mulai tidak percaya dengan dolar AS, sehingga cadangan devisanya dikonversi ke emas,” ujarnya.
Kenaikan harga logam mulia biasanya berdampak langsung terhadap kinerja perusahaan tambang emas. Ketika harga komoditas meningkat, emiten di sektor tersebut berpotensi mencatatkan pendapatan dan margin keuntungan yang lebih besar.
Selain emas, nikel juga dinilai memiliki prospek kuat karena perannya yang penting dalam rantai pasok industri global, termasuk sektor teknologi dan energi.
“Dan hati-hati, nikel itu kalau didaur ulang hampir 99,9 persen bisa kembali menjadi nikel lagi. Jadi kita tidak boleh menghabiskan cadangan nikel kita terlalu cepat, lebih baik dibatasi agar nilainya bisa meningkat,” tutur Hans.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















