Jakarta, aktual.com – Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali merosot tajam dan kini menyentuh titik terendahnya.

Di luar basis pendukung setianya yang identik dengan topi kampanye Make America Great Again (MAGA), Trump tidak pernah benar-benar menikmati dukungan luas dari publik.

Pada pekan ini, dukungan bersih (net approval) Trump tercatat sebesar -23 poin persentase di kalangan publik secara keseluruhan, dan -19 poin di antara pemilih terdaftar, dilansir dari CNBC Indonesia.

Angka ini lebih buruk dibanding titik terendah sebelumnya pada 2017 sebesar -21 poin, serta mendekati level terlemah yang pernah dialami Joe Biden pada 2024, setelah penampilan debat yang dinilai buruk dan memicu keraguan publik atas kelayakannya menjabat.

Kondisi ini menjadi sinyal peringatan serius bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Tren Penurunan yang Konsisten

Penurunan dukungan terhadap Trump tidak dapat dianggap sebagai fluktuasi jangka pendek. Dalam survei, variasi mingguan memang kerap dipengaruhi faktor teknis seperti siapa yang merespons jajak pendapat. Namun dalam kasus Trump, tren pelemahan terlihat konsisten dan berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Dalam konteks politik AS, konflik militer kerap menjadi katalis positif bagi popularitas presiden dalam jangka pendek.

Fenomena ini terlihat pada George W. Bush dan George H. W. Bush, yang mencatat lonjakan signifikan di awal keterlibatan AS dalam perang di Timur Tengah.

Namun, data Maret 2026 menunjukkan keraguan publik terhadap penanganan konflik Iran oleh Trump semakin menguat.

Data menunjukkan mayoritas publik menolak konflik tersebut. Sekitar 59% warga dewasa menyatakan penolakan, bahkan 24% pemilih Partai Republik basis politik Trump juga tidak mendukung langkah tersebut.

Seiring dengan itu, penilaian terhadap penanganan perang oleh Trump terus melemah. Tekanan berpotensi semakin besar, terutama dengan harga bensin yang telah melampaui US$4 per galon, yang berisiko memperburuk persepsi publik terhadap pemerintah.

Negatif di Semua Isu Utama

Lebih jauh, tekanan yang dihadapi Trump tidak hanya berasal dari isu luar negeri. Data survei menunjukkan Trump berada dalam posisi negatif di hampir seluruh kelompok demografis serta pada berbagai isu utama, menandakan pelemahan dukungan yang bersifat luas dan menyeluruh.

Seberapa besar dampak kondisi ini terhadap Partai Republik pada pemilu November masih sulit diukur secara pasti. Namun, secara historis, partai petahana hampir selalu kehilangan kursi dalam pemilu paruh waktu, dengan besarnya penurunan kinerja biasanya sejalan dengan melemahnya dukungan terhadap presiden.

Kondisi ini menempatkan Trump dalam posisi yang semakin tertekan, sekaligus membuat Partai Republik berada dalam situasi yang rentan menjelang pemilu.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi