Jakarta, Aktual.com – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, menegaskan ketahanan siber menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan investor di sektor keuangan.

Menurutnya, pesatnya perkembangan produk dan layanan keuangan berbasis teknologi, seperti e-banking, fintech, hingga aset kripto termasuk Bitcoin, menuntut penguatan sistem keamanan siber secara menyeluruh.

“Kalau dalam situasi seperti ini di mana produk keuangan itu sudah begitu banyak bervariasi, dari penggunaan e-banking, penggunaan dari produk-produk non-financial institution seperti kripto, kemudian Bitcoin, kemudian fintech, itu begitu luas maka itu harus diperkuat yang namanya sistem keamanan siber,” ujar Anggito di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ia menambahkan, ketahanan siber dan keamanan teknologi informasi juga berperan penting dalam mendorong pendalaman sektor keuangan nasional. Untuk itu, LPS secara aktif berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, serta Kementerian Keuangan dalam melakukan evaluasi berkala.

“Kami juga memonitor bank-bank itu masing-masing kalau ada yang kurang baik lalu kami ingatkan supaya meng-improve sistem siber dan teknologi informasi mereka,” katanya.

Selain aspek keamanan siber, Anggito menilai penguatan kebijakan fiskal juga menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, berupaya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen hingga akhir tahun.

Di sisi lain, otoritas juga terus mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor riil guna memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, meningkat dibandingkan Februari 2026 sebesar 9,37 persen yoy.

Berdasarkan penggunaannya, pertumbuhan kredit didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 20,85 persen yoy, kredit modal kerja 4,38 persen yoy, dan kredit konsumsi 5,88 persen yoy.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan minat penyaluran kredit masih tetap baik. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang relatif longgar, meski terdapat kehati-hatian pada segmen konsumsi dan UMKM akibat tingginya risiko kredit.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi