Oleh: Yarifai Mappeaty (Pemerhati Pangan dan Energi)

Jakarta, aktual.com – Perang di Timur Tengah yang berkecamuk saat ini, hendaknya memberi kesadaran pada kita mengenai pentingnya kemandirian, khususnya energi. Sebab bayangkan, begitu Iran menutup Selat Hormuz pada masa awal perang, seluruh dunia resah membayangkan pasokan minyak dan gas global akan terganggu, yang pada gilirannya memantik harga melonjak secara tajam.

Indonesia sendiri pun tak kalah cemas, lantaran 19 hingga 25% dari total impor minyak mentah, dan 20 hingga 30% dari total impor gas nasional, mesti melewati Hormuz. Sementara itu, persediaan bahan bakar domestik kala itu, diperkirakan hanya cukup sebulan.

Membayangkan akan terjadi kelangkaan bahan bakar dan subsidi BBM dan Gas bakal dicabut, panik kemudian menjalar seluruh negeri. Terbukti antrean panjang terjadi di SPBU, tak bisa dielakkan.

Dalam situasi itu, Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, muncul menenangkan rakyat. Dengan percaya diri, ia berjanji bahwa pemerintah akan menjamin ketersediaan bahan bakar dan subsidi tidak dicabut. Rakyat pun lega dan tenang. Tak lama, antrean di SPBU pun kembali normal.

Pada awalnya, tak sedikit yang meragukan janjinya. Namun, setelah hampir dua bulan berlalu, janji Bahlil, begitu ia disapa, terbukti masih tetap terpenuhi. Kita pun patut bersyukur karenanya, kendati kenaikan harga BBM non-subsidi tak bisa dicegah. Tapi tak apa. Hitung-hitung, mereka-mereka yang kaya itu sesekali mensubsidi rakyat kecil.

“Lincah dan taktis,” ujar Ady Suriadi menilai sosok Bahlil di dalam menghadapi krisis energi, sewaktu acara diskusi bertemakan ekonomi restoratif di Warkop Daeng Intang di kawasan Saharjo Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Penilaian Wasekjen Ikatan Alumni Fak. Ekonomi (IKAFE) Unhas itu tak berlebihan. Sebab meski tak banyak diketahui apa yang dilakukan Bahlil dalam menghadapi krisis energi kali ini, namun JPMorgan Asset & Wealth Management meletakkan Indonesia sebagai negara terkuat kedua di dunia menghadapi krisis energi global 2026.

“Bukankah itu suatu pengakuan terhadap kapasitas seorang Pak Bahlil? Setidaknya, orang-orang yang selama ini kerap memandangnya rendah tak berisi, keliru besar,” tukas AR Farisi, Sekjen Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) 2001 – 2003.

Sebagai Menteri ESDM, beban Bahlil memang tak ringan, sungguh. Tanggung jawab untuk mewujudkan visi mandiri energi Presiden Prabowo, diletakkan di pundaknya. Namun dalam hal ini, Bahlil tak sendirian. Sebab Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, belakangan ikut nyemplung memikul beban berat itu.

Terbukti dalam berbagai kesempatan, sosok menteri kelahiran Bone itu nyaris tak pernah luput berbicara soal biodiesel dan bioethanol. Paling terkini ketika menghadiri acara wisuda di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) di Surabaya, Ahad, 19/4/2026, ia kembali menyinggung soal itu.

Bahkan, ia mengaskan bahwa mulai 1 Juli 2026, Indonesia akan stop impor solar dan beralih ke biodiesel produksi dalam negeri. Menteri Amran seolah mengirim pesan kepada Menteri Bahlil, “Ade jangan ragu, kaka di belakangmu.“

Tak lama, pernyataan sosok yang dipanggil Puang Amran oleh orang-orang dekatnya, muncul di media. Sontak memantik beragam tanggapan. Ada yang nyinyir bilang kepo. Ada yang ragu menyebutnya sesumbar. Namun, juga tak sedikit yang berpikir optimis.

Bukan bermaksud melakukan pembenaran, tapi hanya mencoba mengikuti cara berpikir kelompok optimis, untuk kemudian menilai sejauh mana realistisnya pernyataan Menteri Pertanian agar tak disebut kepo dan sesumbar.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan riil solar 2026, sekitar 35,2 juta kL. Sementara produksi kilang Pertamina mencapai 18,5 juta kL. Sedangkan produksi Projek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, baru 2,5 juta kL. Lalu, 14,2 juta kL sisanya dari mana? Jawabannya, biodiesel.

Tahun 2025, produksi biodiesel (B40) mencapai 14,2 juta kL. Tahun ini akan ditingkatkan menjadi B50 sebesar 15,6 juta kL. Dengan demikian ada surplus sekitar 1,6 juta kL. Lantas, biodiesel sumbernya dari mana? CPO, yang merupakan produk perkebunan dan merupakan domain Kementerian Pertanian. Apakah ini disebut kepo?

Produksi CPO Indonesia 2026 diproyeksi mencapai 46 juta ton, terbesar di dunia. 26 juta ton (40%) untuk ekspor. 10,4 juta ton (22%) untuk bahan pangan, oleokimia, dan lainnya. 34% atau 15,6 juta ton sisanya untuk biodiesel. Apa ini sesumbar?

Itu baru biodiesel, belum bioethanol (bensin). Bioethanol ini dapat dibuat dari sawit, tebu, jagung, singkong, dan sorgum. Sehingga, untuk mewujudkan mandiri energi yang bersumber dari bahan hayati, konstribusi Kementan sangat diperlukan untuk dapat berkolaborasi dengan Kementerian ESDM. Kementan di hulu, sedangkan Kementerian ESDM di hilir.

“Duet dua sosok pendekar dari Timur itu sangat diperlukan untuk mewujudkan visi mandiri energi. Dan duet keduanya akan membuat senyum Pak Prabowo semakin manis,” lontar AR Said, fungsionaris DPP Partai Golkar.

“Tetapi, sebutan pendekar itu kurang tepat, sebab tidak mereprensentasikan sosok Puang Amran yang tinggi,” timpal Rusman Madjulekka, seorang penulis lepas, membuat semua berpikir sejenak kemudian serempak tertawa.

Mau disebut apa, rasa-rasanya tak terlalu penting. Namun keduanya, menurutku, termasuk jenis manusia “langka” yang terpilih. Pun tak berlebihan jika disebut dua sosok mustika dari Timur.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain