Sejumlah warga berada dalam pelarian setelah tentara Israel meminta mereka untuk meninggalkan bangunan sekolah tempat terakhir mereka mencari perlindungan, Jabalia, Jalur Gaza utara, Palestina, Sabtu (19/10/2024). ANTARA/Xinhua/Mahmoud Zaki/aa.

Gaza, Aktual.com – Puluhan perempuan yang terjebak di Jalur Gaza pada Selasa (19/5) menggelar aksi protes, menuntut pelonggaran pembatasan perbatasan agar mereka dapat kembali berkumpul dengan suami yang tinggal di luar negeri.

Para pengunjuk rasa berkumpul di Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah, sambil membawa spanduk bertuliskan “Buka perlintasan”.

“Kami berhak pergi menemui suami dan hidup dalam kedamaian dan kestabilan”, serta “Selamatkan perempuan Gaza”.

Ghadir al-Ahmad (28) mengatakan dirinya berharap perlintasan dibuka kembali agar dia dan anak-anaknya dapat menyusul suaminya di Swedia.

“Anak-anak saya kehilangan sosok ayah mereka. Mereka tumbuh tanpa ayah,” tuturnya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa keluarganya terpisah akibat konflik dan pembatasan perjalanan.

Pengunjuk rasa lainnya, Reham Taha, mengatakan datang ke Gaza sesaat sebelum perang meletus untuk mengunjungi ibunya yang sakit, lalu terjebak setelah perlintasan ditutup.

“Selama tiga tahun ini, saya mengalami ketakutan, kehilangan, dan kelaparan,” katanya kepada Xinhua.

Dia menyerukan langkah-langkah untuk mempermudah perjalanan keluar-masuk Gaza dan menyatukan kembali keluarga-keluarga yang terpisah.

Otoritas Kesehatan Gaza mengatakan ribuan pasien yang menunggu pengobatan di luar negeri masih menanti izin perjalanan, pada Selasa (19/5).

“Sedikitnya jumlah pasien yang akan berangkat tidak memenuhi kebutuhan mendesak akan perjalanan bagi mereka yang ada di dalam daftar, yang sedang menghadapi kondisi kesehatan dan kemanusiaan yang sulit di tengah memburuknya krisis kesehatan di Jalur Gaza,” kata otoritas kesehatan Gaza tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina menyerukan kepada otoritas terkait agar mempercepat prosedur evakuasi medis dan memastikan para pasien dapat mencapai rumah sakit khusus di luar Gaza dengan aman.

Menurut data resmi Palestina, sekitar 2.800 orang telah menyeberangi Rafah sejak perlintasan itu dibuka kembali pada 2 Februari. Angka ini mencakup kedatangan maupun keberangkatan dari Gaza.

Sebelum perang, ratusan warga Palestina menyeberangi perlintasan Rafah setiap harinya. Pada Agustus 2023, sebelum konflik meletus, otoritas Israel mengizinkan 58.606 keberangkatan dari Gaza, sementara otoritas Mesir mengizinkan 19.608 keberangkatan, ungkap laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi