Jakarta, Aktual.com — Berjalan menjadi aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dalam keseharian manusia, baik itu di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Akan tetapi apakah ada ketentuan dan adab-adab syariat yang mesti kita lakukan?.

Ustad Muhamad Ghozali, MA, mejelaskan, bahwa ada beberapa etika dalam Islam soal berjalan kaki. Adapun etika tersebut yaitu,

1. Bersikap tawadhu dan tidak sombong dalam berjalan

Dada dibungsungkan, kepala agak tegak sedikit, dan sikap berjalan yang lain yang mencerminkan kesombongan tidaklah Allah SWT ridhoi. Bahkan, sikap seperti ini justru akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka Bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”(Al-Isra’ : 37).

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Luqman : 18)

2. Tidak berjalan dengan hanya memakai satu sendal

Rasulullah SAW bersabda,

إن الشيطان يمشي في النعل الواحدة

Artinya, “Sesungguhnya setan berjalan dengan 1 sandal.”(HR. Ath-Thahawi)

Dalam Hadis lain Rasulullah SAW juga bersabda,

لا يمش أحدكم في نعل واحدة ولينعلهما أو ليخلعهما جميعا

Artinya, “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan menggunakan satu sandal, dan hendaklah ia memakai semuanya atau melepaskan semua.”(HR. Bukhori dan Muslim).

Demikianlah, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa memakai satu sandal dalam berjalan adalah amalan setan. Sedangkan, kita diperintahkan untuk menyelisihi semua tindak tanduk setan. Sebab, setan berupaya untuk menyelisihi syariat Allah SWT dan mengajak manusia untuk mengikutinya.

3. Sesekali bertelanjang kaki dalam berjalan

Berdasarkan perkataan Fudhalah radhiyallahu ‘anhu,

(كان النبي صلى الله عليه وسلم يأمرنا أن نحتفي أحياناً (رواه أحمد

Artinya, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar kadang-kadang telanjang kaki (ketika berjalan).”(HR. Ahmad)

4. Berjalan dengan cepat, tenang dan baik

Hal ini sebagaimana cara jalan Rasulullah SAW. Beliau adalah orang yang paling cepat jalannya, paling baik dan tenang.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, “Saya tidak pernah melihat orang yang paling gagah dari Rasulullah SAW, seakan-akan matahari berjalan diwajahnya, dan saya tidak pernah melihat seseorang yang paling cepat jalannya daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan bumi terlipat untk beliau.”(HR. At-Tirmidzi)

“Cepat dalam berjalan tidak berarti tergesa-gesa. Namun, cepatnya jalan beliau menandakan kekuatan dan semangat ketika berjalan,” tutur Ustad Muhamad Ghozali, MA, kepada Aktual.com, di Jakarta, Rabu (23/03).

5. Berjalan tegak dan tidak bungkuk

Ini adalah cara jalan Rasulullah SAW. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah SAW orangnya berpostur sedang, tidak tinggi atau pun pendek, fisiknya bagus. Warna kulitnya kecoklatan. Rambutnya tidak keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan, beliau berjalan dengan tegak.”(HR. Al-Baihaqi)

Demikian pula hadis Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW, “Beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang menapaki jalan menurun.”(HR. At-Tirmidzi)

6. Memosisikan badan condong ke depan

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apabila Rasulullah SAW berjalan, beliau condong kedepan seakan-akan beliau turun dari shahab (tempat yang tinggi).”(HR. Al-Baihaqi)

“Jalan seperti ini adalah menandakan jalannya orang-orang yang memiliki tekad dan keinginan yang kuat,” terang Ustad Ghozali.

7. Seorang Muslim hendaklah berniat benar ketika hendak berjalan.

Niatkan berjalan itu untuk tujuan yang baik, sebagai ibadah dan mengharapkan reda dari Allah SWT.

“Apabila berjalan ke Masjid, niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika berjalan untuk bekerja, niatkan untuk mencari rezeki yang baik dan halal untuk keluarga,” katanya lagi.

8. Sekiranya Anda berjalan untuk sesuatu yang tidak haram.

Sesungguhnya, kedua kaki ini akan memberi kesaksian dan berbicara pada hari Kiamat. Untuk itu, hendaklah menghindarkan diri dari berjalan untuk sesuatu yang dilarang oleh agama. Sebab, setiap hayunan langkah kita itu akan berbuahkan dosa.

9. Hindari gaya jalan yang dicela.

Contoh berjalan dengan sombong dan takabur, berjalan dengan gelisah dan gementar, berjalan dengan lunglai seperti orang sakit, berjalan meniru lawan jenis, berjalan terburu-buru dan terlalu cepat, serta berjalan seakan-akan melompat.

“Sekali lagi saya mengingatkan jangan pernah kita berjalan diiringi oleh rasa sombong, karena percaya atau tidak jika kita memiliki sedikit rasa sombong saja dalam hati, maka itu akan berdampak pada cara berjalan kita,” ujar ia menambahkan.

“Saya ingat sebuah Hadis diriwayatkan Rasulullah SAW saat melewati sebuah lorong dan melihat orang gila dikerumuni dan diperhatikan orang.”

Beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian berkerumun ?”

Mereka menjawab, “Ada orang gila karena pertikaian fanatisme.”

Nabi memerhatikan mereka dan berkata, “Ia tidak gila ! Maukah aku beritahu orang gila sebenarnya?”

“Tentu wahai Rasulullah,” kata mereka.

Beliau berkata, “Orang gila sebenarnya adalah yang berjalan dengan sombong selalu memerhatikan dan menekankan kedua pinggangnya disertai kedua bahu (seluruh dirinya mengalirkan kesombongan). Dia itulah orang gila yangsebenarnya. Sedangkan orang yang kalian lihat itu adalah orang sakit.”

“Mungkin ini saja yang bisa saya sampaikan, semoga ini bermanfaat dan mari mulailah berbenah diri untuk menjadi yang terbaik di dunia dan akhirat,” ujar ia menutup pembicaraan.

()