Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah dalam pengajian kitab Bahjat Annufusnya menjelaskan, bahwa sesungguhnya thasawwuf itu adalah menjaga adab pada setiap hembusan nafas. Adab seorang hamba adalah menghambakan diri kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan, oleh karena seorang hamba adalah tidak memiliki hak miliki atas dirinya bersama Tuhannya. Seorang hamba haruslah menghayati makna dari penghambaan tersebut, sehingga memahami bahwa diri dan hartanya adalah milik Sang Tuan, yaitu Allah Ta’ala.

Imam Ahmad bin Atha’illah Assakandari RA dalam Hikamnya mengatakan, bahwa:

“ ما من نسف تبديه إلا وله قدر فيك يمضيه”

yang artinya “ Tidaklah nafas itu berhembus, melainkan ada takdir Allah yang berjalan dalam dirimu “. Oleh karena takdir Allah selalu ada pada seorang hamba, yang mana hikmah Allah selalu menyertainya, maka hendaklah seorang hamba selalu menjaga adabnya dalam setiap qodho dan qodarNya.

Allah Ta’ala adalah Al Basith yang berarti Dzat yang Maha Membuka Telapak Tangan, yaitu meluaskan rizki hambaNya, dan Allah juga Al Qabidh yang berarti Dzat yang Maha Menggenggam Telapak Tangan, yaitu menyempitkan rizki hambaNya. Allah Ta’ala berfirman :

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”

” yang artinya “ Allah Maha meluaskan rizki untuk orang-orang yang dikehendaki, dan juga menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tahu terhadap segala sesuatu”(QS. Al ‘Ankabut:62).

Sebagaimana seorang mukmin adalah Abdul Basith, begitu juga dirinya adalah abdul Qobidh, sehingga dirinya harus mampu menghambakan diri pada setiap keadaan lapang dan sempit. Seorang mukmin jangan sampai menjadi hamba dari pada nikmat itu sendiri, sehingga hanya beribadah tat kala mendapatkan kenikmatan, dan kufur ketika dicoba dengan kefakiran.

Allah telah berfirman:

“وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ ”

yang artinya “ Dan sebagian dari manusia, ada orang yang menyembah Allah pada keraguan. Sehingga ketika kebaikan (kenikmatan) menimpanya, maka dirinya akan merasa tenang dengan kebaikan tersebut. Dan apabila cobaan menimpa dirinya, maka dia akan memalingkan mukanya. Dia adalah orang yang celaka di dunia dan akhirat, dan itu adalah sebenar-benar kerugian”(QS. Al Hajj:11).

Orang yang hanya menjadi hamba nikmat bukan hamba Dzat yang Memberi nikmat, maka sesungguhnya dirinya adalah orang yang telah menuhankan hawa nafsunya. Sehingga kebahagiaan dan ketenangannya hanya dengan dunia, dan ketika dunia itu tidak ada di tangannya, maka dirinya akan merasa resah dan gelisah, yang pada akhirnya mengkufuri kenikmatan yang lebih besar, yaitu kenikmatan iman dan islam yang telah Allah karuniakan kepadanya. Wallahu A’lam…. (bersambung)

(As'ad Syamsul Abidin)