Saling berbalas ‘pantun’ negatif yang ditunjukan para kandidat maupun tim pemenangan Capres-Cawapresdi Pilpres 2019 tidak memiliki gagasan yang baik, dan lebih pada membahas atau mengemas narasi itu recehan semata.
Pakar Hukum Tata Negara, Margarito Kamis berpandangan bahwa munculnya isu “recehan” menjelang Pilpres merupakan fenomena universal.
Dia mengatakan, jika itu merupakan efek dari Pemilu langsung, seperti soal narasi “tampang Boyolali” dan “Politik Genderuwo” yang menjadi isu yang dinilai masyarakat merupakan isu “recehan”.
“Sesuatu yang suka atau tidak suka akan muncul (isu) seperti ini. Ini bukan fenomena kita tetapi fenomena universal pada setiap Pilpres. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang begitu kita bicara mengenai pilpres langsung yang kita temukan ya begini,” ujar Margarito di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (13/11/2018).
Menurut Margarito, isu recehan tersebut pasti selalu dimainkan dan bukan sesuatu yang mengagetkan. Bahkan, hal yang unik, sambung Margarito apabila isu tersebut tidak dimainkan.
“Isu-isu recehan, isu-isu yang populer. Isu isu yang sekedar balas membalas tidak mungkin tidak. Itu pasti ada. Itu bukan sesuatu yang mengagetkan bagi saya. Sama sekali tidak. Yang mengagetkan justru ketika ada isu seperti itu,” katanya.
“Anda bisa bayangkan kalau kata-kata “kasar” keluar dari Capres misalnya. Mestinya itu tidak bisa, tapi ternyata itu keluar juga. Tapi apakah itu sesuatu yang harus dicemaskan iya tetapi apakah sesuatu yang bisa diisolasi tidak mungkin. Dalam arti kita menemukan keadaan seperti itu,” terang dia.
Sementara itu, dari hasil pantauannya, isu pembangunan yang dimainkan kedua kubu saat ini sedikit tampak ke permukaan. Namun tidak terlalu menggigit ketimbang isu receh saling sahut menyahutkan narasi.
“Kalau saya melihat ya sejauh ini isu-isu mengenai pembangunan itu muncul. Tetapi jujur saja tampaknya itu juga isu-isu pembangunan sampai di batas tertentu kalah menggigit dengan isu receh tadi,” ujar Margarito.
Oleh karena itu, ia menegaskan, harusnya para kandidat mampu menawarkan isu substansial kepada masyarakat menguras energi yang terlalu besar. Sementara isu “receh” mudah diingat oleh para konstituen.
“Kalau kita mau jujur, bagaimana orang bicara mengenai pasar, bicara mengenai 2020, 2025 dan segala macam kita musti apakan itu substansial. Tapi yang substansial itu menguras energi terlalu besar. Jadi ya udah, yang begitu-begitu. Yang gampang diingat. Begitu,” tuturnya.
Apalagi, masih kata Margarito, masyarakat masih fokus dengan urusan rumah tangga masing-masing. Sehingga isu yang mudah diingat sangat laku dipasaran akar rumput. “Kebanyakan orang pusing dengan perut, orang pusing dengan anak sekolah. Jadi lempar (isu) yang kaya gitu aja,” tandas dia.
Tidak jauh berbeda dengan Margarito, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago (Ipang) menilai perhelatan masa kampanye Pilpres 2019 sangat kental kebisingan yang tidak berbobot bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya.
Atau dalam kata lain, sambung Ipang, narasi kampanye Pilpres 2019 sangat dangkal gagasan, dan hanya berkutat pada perang diksi yang minim isi.  Dan sudah barang tentu, situasi ini menganggu kualitas demokrasi substansial akibat degalan politik murahan yang tidak mutu.
“Perang saling sindir ini dilakukan dengan melontarkan diksi dan frasa seperti politik sontoloyo, politik kebohongan, politik gendoruwo, tampang Bayolali, budek/buta, tempe setipis ATM, impor ugal-ugalan dan lain-lain. Diksi dan frasa ini pada ujungnya mendapat hubungan aksi dan reaksi (kausalitas) yang justru membuat bising dan memekakkan di ruang opini publik,” kata Ipang dalam keterangan tertulisnya yang diterima¬†aktual.com, di Jakarta, Rabu (14/11).
Pertanyaan kemudian adalah, apakah politik saling sindir ini sentimen-nya positif terhadap citra kandidat atau justru mengembosi elektabilitas Capres itu sendiri?.
“Jangan-jangan dengan arti kata itu, justru akan menjadi senjata makan tuan alias merugikan diri sendiri,” papar dia.
Seharusnya, kata Ipang, Jokowi sebagai presiden mestinya menjaga konsistensi-nya yang terkenal dengan politik santun, tenang, tidak nyinyir, tidak suka menyerang, tidak menyindir dan tidak menuding yang pada Pemilu 2014 mengantarkannya keluar sebagai pemenang.
“Namun pada hajatan Pemilu kali ini, sepertinya Jokowi memainkan taktik formasi menyerang. Kita tidak melihat Jokowi seperti yang dulu, terjebak pada politik reaktif namun belum masuk ke hal-hal yang lebih substantif,”pungkas Ipang.
 
Informasi Soal Capres Sengaja Dialihkan

(Novrizal Sikumbang)