Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Frambusia dr Sri Linuwih Menaidi saat diwawancarai awak media massa di Jakarta, Kamis (30/1/2020) ANTARA/Muhammad Zulfikar
Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Frambusia dr Sri Linuwih Menaidi saat diwawancarai awak media massa di Jakarta, Kamis (30/1/2020) ANTARA/Muhammad Zulfikar

Jakarta, aktual.com – Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Frambusia dr Sri Linuwih Menaidi mengatakan bakteri penyebab penyakit kusta yakni Mycobacterium leprae memiliki potensi kebal terhadap obat sebab cukup sulit untuk melakukan penelitian terkait bakteri tersebut.

“Penyakit kusta penyebab utamanya adalah bakteri. Untuk penelitian terhadap Mycobacterium leprae itu harus ditanam pada sel yang hidup dan itu menyulitkan,” kata dia di Jakarta, Kamis (30/1).

Sebab, sel hidup yang memungkinkan sebagai media tanam penelitian bakteri tersebut hanya satu binatang yakni armandillo yang merupakan mamalia plasental kecil. Hewan tersebut hanya ada di Amerika Tengah.

Hal ini tentu menyulitkan dalam melakukan penelitian sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa dalam temuan-temuan berikutnya memungkinkan bakteri ini bisa kebal dengan obat.

“Ditambah lagi ini membuat kita tidak bisa mencari obat-obatan lain yang dapat menyembuhkan penyakit kusta,” ujar dia.

Karakteristik bakteri Mycobacterium leprae ini berbeda dengan berbagai bakteri lain termasuk contohnya penyebab borok dimana dapat tetap tumbuh walaupun hanya diletakkan di media buatan.

“Jadi ini menjadi semacam kendala. Bisa kita coba pada tikus, tapi hasilnya tidak serupa dengan penyakit pada manusia. Pada tikus, kumannya dapat tumbuh tapi begitu-begitu saja,” kata dia.

Sehingga, secara umum kemungkinan pencegahan terhadap penyakit kusta hanya dirunut berdasarkan penanganan terhadap penderita tuberkulosis sebab bakteri penyebabnya mirip, walaupun beda spesies.

Ia menjelaskan penanganan kusta akan berkaca pada tuberkulosis yakni dengan diberikan imunisasi Bacille Calmette-Guerin (BCG) yang merupakan vaksin untuk tuberkulosis yang dibuat dari baksil tuberkulosis atau Mycobacterium bovis.

“Kita runut ke situ sehingga pertahanan tubuh bisa terlindungi, walaupun mungkin tidak 100 persen,” ujarnya.

Sementara untuk penanganan lain, bisa dilakukan dengan memahami gejala kusta dari hal yang paling sederhana. Sebagaimana disampaikan World Health Organization (WHO) yakni mengenali saat ada bercak di tubuh yang bersifat baal dan tebal.

Kemudian terkait pelayanan kesehatan, dokter di seluruh Indonesia termasuk dokter praktik umum di tingkat Puskesmas juga telah dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang kusta sehingga dapat melayani pengidap penyakit itu sebaik mungkin.

(Eko Priyanto)