“Saya kira penilaian ini wajar, karena itu fakta bahwa mahasiwa yang berdemo juga pemilih, dan sulit dideteksi motif politik mereka secara tepat,” katanya.

Hal berikut menurut dia, yang juga penting dicek kebenarannya adalah klaim bahwa mahasiswa adalah pengubah bangsa.

“Apakah dengan mempercayai sebuah fakta bahwa gerakan mahasiswa 98 adalah pengubah bangsa atau yang mereformasi bangsa, maka gerakan mahasiswa pasca 98, apa pun itu, adalah juga manifestasi dari sprit “gerakan perubahan bangsa?”,” katanya dalam nada tanya.

Dalam studi politik, jika menggunakan perspektif Michael Foucault, bisa dilakukan semacam genealogi pengetahuan untuk mengecek lapisan-lapisan wacana, dan ideologi-ideologi yang bersemayam di balik istilah “mahasiswa dan gerakan perubahan itu”.

Di mana akan ditemukan fakta lain bahwa ternyata kepercayaan dan wacana tersebut mengandung banyak kepentingan dan ideologi lain di sana.

Artinya, tidak hanya murni soal perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim, tapi juga kepentingan pihak-pihak yang menggerakan dan mendukung gerakan-gerakan mahasiswa.

Di mana, di sana yang sangat kuat bermain adalah kepentingan perebutan kekuasaan dan sumber daya-sumber daya ekonomi politik, kata Mikhael Bataona.

(Abdul Hamid)