Sejumlah siswa SDN 15 Karet Tengsin mencuci tangan dengan sabun cair di Jakarta, Rabu (18/10). Kegiatan yang diikuti oleh ratusan siswa tersebut selain dalam rangka Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober juga untuk menanamkan sejak dini perilaku hidup bersih dan sehat agar mengurangi resiko penularan penyakit. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr.dr. Dwi Utami Anjarwati, M.Kes, mengatakan cuci tangan berperan penting untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab penyakit termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

“Cuci tangan merupakan salah satu tindakan untuk dekolonisasi atau mengurangi populasi bakteri patogen termasuk bakteri resisten terhadap antibiotik yang berada di tangan,” katanya, Selasa (15/10).

Pengajar di Departemen Mikrobiologi Kedokteran dan Prodi Ilmu Biomedis Fakultas Kedokteran Unsoed tersebut menjelaskan, bakteri yang resisten terhadap antibiotik ini tidak hanya ditemukan pada pasien di rumah sakit melainkan juga dapat ditemukan pada masyarakat umum.

“Pada masyarakat umum juga dapat ditemukan strain bakteri sejenis. Masyarakat berpotensi menjadi pembawa bakteri resisten di dalam tubuhnya tanpa ditemukan gejala penyakit yang disebut sebagai karier,” katanya.

Dia menambahkan, karier berpotensi sebagai sumber penularan bakteri resisten terhadap orang lain.

“Sehingga strain bakteri resisten ini dapat menyebar di tengah masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya preventif untuk memotong rantai penyebaran bakteri resisten dengan tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang yaitu cuci tangan,” katanya.

(Abdul Hamid)