Lebak, Akurat.Com – Akibat Online di Sistem orang tua siswa ramai padati Sekolah Menengah Atas (SMN2) Rangkasbitung.
Fenomena unik terjadi dalam pelaksanaan Pra-SPMB 2026. Meski sistem pendaftaran dilakukan secara online, sekolah tetap dipadati orang tua siswa. Salah satunya terlihat di SMAN 2 Rangkasbitung, di mana ratusan orang tua datang langsung untuk memastikan keyakinan proses berjalan lancar.
Pelaksanaan Pra Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang berlangsung sejak 20 April hingga 30 Mei 2026 di SMAN 2 Rangkasbitung menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat. Namun di balik sistem berbasis digital, praktik di lapangan masih didominasi kehadiran fisik orang tua ke sekolah untuk memastikan keyakinan hasil dari online.
Kepala SMAN 2 Rangkasbitung, Widodo, mengungkapkan bahwa pihak sekolah bahkan menyiapkan petugas khusus untuk melayani pendaftar yang datang langsung.
“Kami menugaskan sekitar 12 petugas khusus untuk membantu proses pra-SPMB, karena memang mayoritas orang tua tetap datang ke sekolah,” ujarnya, Rabu (29/5/2026).
Menurutnya, meskipun sistem sudah online, banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami mekanisme pendaftaran digital. Hal ini membuat mereka memilih datang langsung untuk memastikan data yang diinput benar dan sesuai.
Widodo menjelaskan, kendala terbesar dalam proses pra-SPMB berasal dari kelengkapan dan keakuratan dokumen, terutama Kartu Keluarga (KK). Kesalahan input data seperti tanggal lahir kerap membuat proses verifikasi terhambat.
“Masalahnya kebanyakan di dokumen. Saat divalidasi, ada data yang tidak sinkron, sehingga harus diperbaiki langsung di sekolah,” unhkapnya.
Selain itu, beberapa kasus juga terjadi pada ketidaksesuaian alamat yang terbaca sistem, sehingga perlu pengecekan manual oleh operator sekolah.
Untuk tahun ini, SMAN 2 Rangkasbitung memiliki 12 rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas maksimal 36 siswa per kelas. Namun, kuota resmi PPDB masih menunggu penetapan dari pihak terkait.
“Secara hitungan maksimal bisa sekitar 432 siswa, tapi kita siapkan juga cadangan karena ada kemungkinan siswa tidak naik kelas,” jelas Widodo.
Pihak sekolah sengaja tidak langsung mengisi penuh kuota untuk mengantisipasi aturan maksimal jumlah siswa per kelas sesuai ketentuan pemerintah.
Dalam sistem SPMB, calon siswa diwajibkan memilih dua sekolah. Namun, strategi dalam menentukan pilihan menjadi faktor penting dalam peluang diterima.
“Kalau tidak tepat memilih, bisa kalah dengan pendaftar lain yang menjadikan sekolah tersebut sebagai pilihan utama,” paparnya.
Karena itu, pihak sekolah juga aktif memberikan pendampingan kepada orang tua agar tidak salah langkah dalam proses pendaftaran.
Fenomena ramainya kunjungan ke sekolah meski sistem online menunjukkan bahwa budaya tatap muka masih kuat di tengah masyarakat. Banyak orang tua merasa lebih yakin jika datang langsung dibanding hanya mengandalkan sistem digital.
SMAN 2 Rangkasbitung pun mengakomodasi hal tersebut dengan menyediakan ruang layanan khusus dan pendampingan langsung bagi pendaftar.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pihak sekolah berharap pelaksanaan SPMB 2026 dapat berjalan lancar hingga tahap akhir. Orang tua dan calon siswa diimbau untuk lebih teliti dalam mengisi data serta memahami mekanisme pendaftaran agar proses dapat berjalan tanpa kendala. (ade)
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















