Jakarta, Aktual.com — Di dalam keseharian kita, sering kali kita menemukan Muslim yang banyak bicara namun sedikit bekerja dan karya. Banyak bicara merupakan sikap berlebihan yang paling banyak terjadi dan paling besar pengaruhnya. Tidak ada yang selamat dari sikap ini kecuali hanya sedikit.

“Coba kita lihat pada kejadian yang telah berlalu berapa banyak orang meninggal karena pembicaraan yang sepele. Berbicara memang hal sepele akan tetapi jika kata yang keluar dari mulut seseorang itu tajam dan menyakiti hati lawan bicara maka itulah yang berbahaya,” tegas Ustad Muhamad Ikrom, kepada Aktual.com, di Jakarta, Jumat (12/02).

Hadis dari Abu Umamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَيَاءُ وَالْعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْبَذَاءُ وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنْ النِّفَاقِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ قَالَ وَالْعِيُّ قِلَّةُ الْكَلَامِ وَالْبَذَاءُ هُوَ الْفُحْشُ فِي الْكَلَامِ وَالْبَيَانُ هُوَ كَثْرَةُ الْكَلَامِ مِثْلُ هَؤُلَاءِ الْخُطَبَاءِ الَّذِينَ يَخْطُبُونَ فَيُوَسِّعُونَ فِي الْكَلَامِ وَيَتَفَصَّحُونَ فِيهِ مِنْ مَدْحِ النَّاسِ فِيمَا لَا يُرْضِي اللَّهَ

Artinya, “Sifat malu dan al ‘iyyu adalah dua cabang dari cabang-cabang keimanan. Sedangkan Al Badza dan Al Bayan adalah dua cabang dari cabang-cabang kemunafikan.” Abu Isa berkata, Ini adalah Hadis Hasan Gharib. Ia berkata, Al ‘Iyy adalah sedikit bicara dan Al Badza adalah kata-kata yang keji, sedangkan Al Bayan adalah banyak bicara seperi para khotib-khotib yang memperpanjang dan menambah-nambahkan isi pembicaraan guna memperoleh pujian publik dalam hal-hal yang tidak diridhoi Allah SWT.” (HR. Tirmidz)

Hadis dari Abu Hurairah,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Artinya, “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT meridhoi kalian karena tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara. Meridhoi kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh terhadap tali agama Allah SWT secara bersama-sama dan saling menasehati terhadap orang yang Allah SWT beri perwalian urusan kalian. Membenci kalian jika banyak bicara, menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya.” (HR. Malik)

Dari kedua Hadis tersebut, menurut Ustad Ikrom, Muslim bisa melihat jika Allah SWT sangat membenci orang (hamba-Nya) yang banyak bicara dan malas bekerja.

“Kita boleh banyak bicara apabila pembicaraan yang kita lakukan merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT, yakni berbicara tentang kebenaran serta amar makruf nahi mungkar sebagaimana dituntunkan Allah SWT dan Rasul-Nya,” terangnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah SWT memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Betapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar”(HR Abu Daud dari Anas bin Malik). Beliau bersabda pula, “Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun”.(HR Ibnu Majah, dari Sahal bin Mu’adz bin Anas) “Orang yang menunjukkan kebaikan seperti orang yang mengerjakannya”(HR Al Bazzar, dishahihkan Ibnu Hibban). Bersambung…..

()