Denpasar, Aktual.com — Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali, Dewi Setyowati mengatakan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Kawasan Timur Indonesia, perekonomian Bali dan Nusa Tenggara masih berkontribusi sebesar 2,87 persen terhadap perekonomian nasional.

“Bahkan, mengalami peningkatan pada triwulan III-2015 dengan angka pertumbuhan mencapai 11,75 persen (yoy) dengan masing-masing Provinsi NTB mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi yaitu mencapai 26,12 persen (yoy), disusul Provinsi Bali yaitu 6,29 persen (yoy), dan Provinsi NTT 5,11 persen (yoy),” katanya ketika membuka Pelatihan Wartawan untuk liputan Ekonomi Bisnis wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada 4-6 Desember 2015, di Lombok Utara, Jumat (4/12) malam.

Menurut dia, angka pertumbuhan di tiap provinsi tersebut, masih lebih tinggi dibandingkan dengan nasional sebesar 4,73 persen (yoy) dan hal itu didukung tiga sektor utama yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Bali Nusra sebesar 20,8 persen.

Kemudian, diikuti sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,8 persen dan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 10 persen.

Berdasarkan tiga sektor utama tersebut, katanya, pengembangan koridor ekonomi Bali Nusa Tenggara masih erat dengan tema sebagai “Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional”.

Dalam jangka panjang, kegiatan kepariwisataan merupakan pendorong pembangunan ekonomi di Bali Nusa Tenggara melalui diversifikasi produk wisata, perluasan kawasan pariwisata dan pengembangan daya saing destinasi pariwisata secara berkelanjutan, maupun pengembangan pangsa pasar dengan daya beli tinggi.

“Struktur tata ruang di Bali Nusa Tenggara juga perlu dikembangkan dengan menitikberatkan pada konektivitas darat, laut dan udara dengan memperhitungkan kondisi geografis berupa gugus pulau. Sistem ini akan mendukung seluruh kegiatan ekonomi utama (pariwisata, peternakan, dan perikanan) dan kegiatan lainnya,” katanya.

Dari sisi perkembangan harga, katanya, tingkat inflasi Bali Nusa Tenggara masih dapat terjaga dengan baik. Pada November 2015 inflasi Bali Nusa Tenggara tercatat sebesar 4,42 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 4,89 persen (yoy) maupun inflasi Kawasan Timur Indonesia sebesar 5,72 persen (yoy).

“Perkembangan yang sangat baik ini tidak lepas dari sinergitas upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di masing-masing Provinsi Bali, NTB dan NTT,” katanya lagi.

Pencapaian ini kata dia, tentunya akan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali Nusra yang lebih tinggi.

Di tengah berlanjutnya kebijakan makro ekonomi yang ketat, kondisi perbankan Bali Nusa Tenggara sebagai penopang utama stabilitas sistem keuangan menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi Nasional.

“Meskipun tumbuh terbatas, kredit perbankan Bali Nusa Tenggara pada September 2015 tercatat sebesar 13,53 persen, masih lebih tinggi dari pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 11,09 persen (yoy),” katanya.

Berikut kredit konsumtif masih mendominasi penyaluran kredit yaitu sebesar 42,35 persen. Selebihnya untuk kredit modal kerja sebesar 34,87 persen dan kredit investasi sebesar 22,78 persen.

“Berdasarkan sektornya, kredit sektor perdagangan merupakan sektor penyaluran kredit terbesar yaitu mencapai 25 persen dari total penyaluran kredit, kemudian sektor konstruksi (17,92 persen) dan sektor akomodasi, makanan dan minuman (11,06 persen),” katanya Selain itu, menurut dia, dukungan perbankan Bali Nusa Tenggara terhadap UMKM juga tercatat masih cukup baik sebagaimana tercermin pada pertumbuhan penyaluran kredit UMKM yang memiliki pangsa sebesar 31,84 persen terhadap total kredit pada September 2015, tercatat sebesar 13,53 persen (yoy), lebih tinggi dari angka nasional (9,11 persen yoy).

“Kinerja perbankan masih dapat dijaga pada tingkat yang sehat, hal ini tercermin dari tingkat loan to deposit ratio (LDR) bank yang tercatat pada level 78,49 persen sert NPL rata-rata yang tetap terjaga sekitar 1,91 persen (dibawah ambang batas target indikatif nasional, yaitu sebesar 5 persen),” katanya.

Sementara itu, katanya pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) cenderung mengalami perlambatan.

Penghimpunan DPK bank di Provinsi Bali Nusa Tenggara pada September 2015 mencapai Rp160,6 triliun, atau tumbuh 12,95 persen (yoy). Pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan DPK pada September 2014 yang tercatat sebesar 16,51 persen (yoy).

“Seiring dengan pertumbuhan DPK yang lebih rendah dari tingkat pertumbuhan kredit, terdapat tendensi pengetatan likuiditas perbankan di wilayah Bali Nusa Tenggara,” katanya.

(Ant)

()