Tampak pembangunan gedung bertingkat di Kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (13/8/2015). Dalam draf nota keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8-6,2 persen. Bank Indonesia punya pandangan berbeda. BI lebih pesimis dengan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih rendah dari target pemerintah. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com —  Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2015 bisa mendekati 5,0 persen, sebagian besar dipicu oleh realisasi investasi pemerintah yang juga berimbas kepada pemulihan konsumsi masyarakat.

Deputi Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Leonard Tampubolon mengatakan pihaknya juga memprediksi pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga akan kembali melebihi 5,0 persen, setelah di kuartal II tumbuh 4,97 persen.

“Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi mengarah ke 5,0 persen, walaupun belum sampai 5,0. Konsumsi kita lihat penjualan motor naik, properti juga, meskipun eskpor belum pulih benar,” ujarnya di Jakarta, Senin (26/10).

Arah membaiknya konsumsi domestik itu, lanjut dia, juga didorong dengan percepatan realisasi anggaran pemerintah. Seperti diketahui, pada semester I 2015 realiasi anggaran pemerintah pusat baru 33,1 persen atau sekitar Rp 436,1 triliun.

Selain realisasi anggaran, dikeluarkannya lima paket kebijakan ekonomi sejak September 2015 lalu, menurut Leonard juga telah meyakinkan pasar bahwa pembenahan struktural ekonomi terus berjalan.

Di sisi lain, Leonard mengakui, faktor eksternal seperti pergeseran ekspetasi kenaikan suku bunga Federal Reserve juga mendorong sentimen positif bagi perekonomian domestik, selain aliran dana masuk untuk investasi.

“Kita lihat kurs rupiah yang sudah berjalan kembali ke level Rp13.000-an juga membantu pemulihan,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo, dalam wawancara dengan LKBN Antara sebelumnya, mengatakan selama semester II 2015 ini, pemerintah memberikan perhatian khusus untuk memulihkan kemampuan beli seluruh lapisan masyarakat.

Jokowi optimistis daya serap anggaran bisa mencapai 95 persen dari total belanja pemerintah pusat. Begitu juga daya serap anggaran oleh pemerintah daerah, kata Presiden,akan meningkat hingga akhir 2015.

Kebijakan ekonomi yang ditempuh juga akan menyeluruh. Jokowi mengharapkan pemberian bantuan melalui Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Keluarga Sejahtera dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, optimalisasi dana desa yang berjumlah Rp21 triliun, diharapkan dapat mendorong pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Pada kuartal pertama dan kedua 2015, perekonomian Indonesia memang mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama dan kedua masing-masing di bawah 5,0 persen atau sebesar 4,7 persen dan 4,67 persen.

(Ant)

(Eka)