Jakarta, aktual.com – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menyatakan pembelajaran berbasis digital atau daring harus dilakukan dengan sistem pengelolaan pembelajaran yang terstruktur dan terstandar agar memiki target pembelajaran yang lebih terarah.

“Jadi proses pembelajaran daring itu sendiri harus dipersiapkan dengan matang,” kata Direktur Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Bappenas Mahatmi Parwitasari Saronto dalam Dialog Nasional Masa Depan Pembelajaran Digital dan Jarak Jauh di Jakarta, Rabu (18/12).

Ia mengatakan sistem pengelolaan yang saat ini diterapkan dalam pembelajaran daring belum tentu sesuai dengan harapan.

Proses pembelajaran, katanya, harus mempertimbangkan berbagai aspek dan Indonesia dapat juga belajar tentang proses pembelajaran daring yang diterapkan oleh Australia, Filipina dan negara lain untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik.

Selain perlunya mempertimbangkan berbagai aspek, proses pembelajaran daring juga perlu memastikan metode materi dan proses penyampaian yang terstandar dan standar kompetensi nasional harus menjadi acuan dalam desain pembelajaran tersebut.

Sementara itu, untuk mempercepat proses implementasinya, pemerintah dapat bekerja sama dengan swasta, mitra pembangunan dan pihak lain agak proses implementasinya dapat berjalan lebih cepat.

“Seperti Universitas Terbuka, Labtech, Kementerian Australia dan juga Filipina bisa kita ajak bekerja sama,” katanya.

Pemerintah, katanya, akan memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk pelaksanaan pembelajaran daring terutama untuk bidang-bidang prioritas.

Untuk sektor-sektor prioritas tersebut, pemerintah akan mendorong sistemĀ blended learning atau pembelajaran campuran sehingga tidak sepenuhnya daring, terutama terkait pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Teori dan pelatihan kompetensi dasar seperti melipat serbet atau napking itu bisa dilakukan secara daring. Namun, untuk kompetensi dengan tingkat lebih tinggi dapat dilakukan dengan secara terbuka,” katanya.

Sementara itu, sertifikasi juga perlu dilakukan untuk memastikan kompetensi seseorang pascapelatihan daring.

Selain itu, ia juga menekankan perlunya melihat kapasitas guru atau pelatih karena mereka memegang peran penting untuk mencapai target pembelajaran yang diharapkan.

“Mereka online 12 jam, siap menjawab pertanyaan dan sangat perhatian jika siswanya tidak berkembang sesuai yang diinginkan. Mereka memegang peranan kunci,” katanya. (Eko Priyanto)

(Zaenal Arifin)