Jakarta, Aktual.com – Malam tadi, sekitar pukul 19.23 WIB, Sulawesi Utara (Sulut) gempa berkekuatan magnitudo 7.1. Setelah itu, gempa susulan juga terjadi sebanyak tiga kali yakni pukul 22.40 WITA, pukul 00.01 WITA dan pukul 08.30 WITA pagi tadi.

Meskipun gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun guncangan sangat dirasakan warga di Kabupaten Kepulauan Talaud dan sebagian daerah tersebut mengalami kerusakan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut berpusat di 134 kilometer dari Melonguane dengan kedalaman 154 kilometer.

Lalu apa saja fakta yang ada pasca gempa Sulut semalam? Berikut ulasannya:

1. Gempa dirasakan di 7 Kota di Sulawesi Utara

Gempa berkekuatan magnitudo 7.1 ini dirasakan oleh warga Kota Manado, Minahasa, Sangihe, Talaud, Bitung, Tomohon, dan Bolaang Mongondow Selatan. Meski guncangan gempa tersebut dirasakan cukup lama oleh warga, namun dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Dilansir dari Kompas.com, Jumat (22/1/2021) Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado Edward Henry Mengko mengatakan jika Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 4.94 LU dan 127.44 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 132 kilometer arah timur laut Kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara pada kedalaman 119 kilometer

2. Warga Dibuat Panik

Warga di Kabupaten Talaud, tepatnya di Desa Miangas, Kecamatan Miangas, banyak yang panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Saya sempat koordinasi pegawai Puskesmas di Miangas bahwa guncangan cukup keras dan belum terdata kerusakan karena kepanikan penduduk yang lari keluar rumah,” ungkap Kepala Bagian Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Talaud Septno Lantaa dikutip dari Kompas.com.

Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Talaud, Alpius Londoran menjelaskan, gempa yang mengguncang daerahnya tersebut cukup kuat. Bahkan, menyebabkan listrik sempat padam.

“Informasi sementara yang diterima, gempa di Miangas sangat kuat. Di Melonguane sendiri gempa cukup kuat, apalagi mereka di Kecamatan Nanusa dan Miangas. Itu pasti kuat,” ungkapnya.

2. Banyak Rumah Roboh

Sejumlah bangunan rumah milik warga di Kabupaten Kepulauan Talaud roboh. Kapolres Talaud AKBP Alam Kusuma Sari Irawan mengatakan, sejumlah bangunan rumah warga yang roboh itu terjadi di Kecamatan Beo dan Melonguane.

“Di Beo, satu rumah dinding belakangnya roboh dan dua rumah rusak ringan. Sedangkan, di Kecamatan Melonguane satu unit dapur warga roboh,” kata Alam.

Meski demikian, Alam mengatakan sejauh ini belum ada laporan adanya korban jiwa akibat musibah tersebut.

“Belum ada (korban), kita mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada menjaga jika terjadi gempa susulan,” imbaunya.

3. Gempa Terjadi karena adanya subduksi Lempeng Filipina

Gempa tektonik bermagnitudo 7.1 di wilayah Talaud Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis (21/1) pukul 19.23 WIB. Berdasarkan analisis BMKG disebabkan adanya aktivitas subduksi Lempeng Filipina.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, menurut BMKG gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa menengah akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Filipina. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (Thrust Fault).(RRI)

(Warto'i)