JARAK PANDANG HANYA 100 METER

Jakarta, Aktual.com – Sudah lebih dari satu bulan lamanya, provinsi Riau diselimuti kabut asap. Korban pun berjatuhan, anak-anak, wanita hamil, lansia dan bahkan wanita-wanita muda. Jumlahnya sudah mencapai ribuan. Namun upaya-upaya pemadaman dan penanganan dampak asap dari pemerintah, masih terkesan sangat lamban.

Sudah berjatuhan korban, sudah tersesak Riau dengan asap, pemerintah baru sibuk rapat penangulangan. Padahal titik api sudah terdeteksi sejak jauh-jauh hari. Lambat!

Selain itu, upaya penindakan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para pembakar lahan, juga dinilai sebagai tindakan yang kurang bernyali. Sebab yang ditindak lebih banyak rakyat kecil dari pada korporasi yang memiliki lahan konsesi dengan jumlah besar.

Pemerintah kelihatan tidak ada nyalinya. Ada ribuan hektar lahan di Riau, dikelola oleh perusahaan. Titik-titik api yang muncul juga banyak di lahan-lahan konsesi perusahaan, tapi yang ditangkap bukan pemilik perusahaan, tapi malah rakyat kecil yang banyak ditangkap, padahal mereka hanya punya lahan sehetar dua hektar!

Persoalan kabut asap di Riau ini, sudah sering terjadi. Bahkan dari data yang ada, sudah terjadi sejak dua puluh dua tahun yang lalu. Peristiwanya terus berulang, setidaknya setiap 4-5 tahun sekali.

Sudah sering Riau ini diserang kabut asap, sejak puluhan tahun yang lalu sudah terjadi. Tapi upaya penangulangan yang berkesinambungan dan tegas dari pemerintah, tidak ada. Sehingga peristiwanya pun kini terulang kembali.

Rehabilitasi terhadap korban asap dan juga kerusakan lingkungan akibat asap ini, juga tak pernah dilakukan. Pemerintah baik di daerah maupun pusat tidak sigap dalam penanganan kabut asap ini, maka rakyat Riau akan marah dan menyusun gerakan perlawanan untuk memisahkan diri dari NKRI.

Semoga bahaya ini disadari oleh pemerintah!”

Oleh: Setiyono, Aktivis Perantauan Riau

(Arbie Marwan)