Pilkada DKI Putaran Dua (Antara)

Jakarta, Aktual.com – Pelaksanaan pesta demokrasi lokal di Indonesia disebut-sebut menjadi arena investasi bagi para investor atau bohir politik. Bohir politik ditengarai semakin marak dengan pelaksanaan Pilkada serentak sejak 2015 lalu.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai besarnya peran bohir politik dalam Pilkada. Pasalnya, dana segar yang dibawa bohir politik dipandang sebagai faktor yang menentukan kemenangan salah satu calon yang masuk bursa kepala daerah.

“Tentunya peran bohir politik sangat kuat membuat sang calon menang. Ada keberpihakan luar biasa kepada calonnya. Tapi ditempuh dengan tidak kompetisi, misal kita tahu dengan mengutak-atik kotak suara, mengutak-atik daftar pemilih pada akhirnya vote buying,” ungkapnya usai diskusi publik ‘Pilkada Bersih-Sehat: (Waspadai Operasi Kumis-Peci) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/4).

Dampak dari adanya investor Pilkada pun sangat signifikan, termasuk juga dalam program-program si calon. Guyuran dana segar dari bohir pun dapat memunculkan program yang tidak pro rakyat karena cenderung mengutamakan kepentingan sang penyandang dana.

“Dampaknya adalah muncul sinergi antara penguasa dan pengusaha. Akhinya dampaknya program itu sangat tidak manusiawi dan tidak menguntungkan masyarakat luas,” urainya.

Di tempat yang sama, budayawan Betawi, Ridwan Saidi menyatakan bahwa fenomena bohir politik pun terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta. Secara tersirat, ia menyebutkan bahwa para bohir politik berkumpul dalam kubu pasangan calon nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Ridwan memakai istilah ‘calon sebelah sono’ untuk menggambarkan kubu Ahok-Djarot. Meskipun memakai istilah yang tidak gamblang, namun secara tegas Ridwan menduga bahwa kubu Ahok-Djarot akan melakukan segala cara untuk memenangkan Pilkada, termasuk tindakan politik uang.

“Harapan calon sebelah sono hanya bisa terapkan demokrasi fulus dengan kecurangan,” ujar Ridwan.

 

Laporan Teuku Wildan

()