Suasana bongkar muat di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (22/11/2018). Lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan pertumbuhan ekspor Indonesia pada tahun depan berpotensi tertekan seiring masih melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, diperkirakan akan mengalami perlambatan tahun depan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 yang hanya sebesar 5,05 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau menunjukkan tren perlambatan karena berlanjutnya kontraksi pada kinerja ekspor dan melambatnya pertumbuhan investasi atau Pembentukkan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,05 persen secara tahunan (year on year/yoy) itu lebih lambat dibandingkan dengan pencapaian pada periode sama tahun lalu yang sebesar 5,27 persen (yoy) ataupun pencapaian kuartal I 2019 yang sebesar 5,07 persen (yoy), Senin (5/8).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kontribusi ekspor masih tertekan, karena turunnya volume dan harga komoditas ekspor di pasar global, serta perlambatan perekonomian beberapa negara mitra dagang yang mempengaruhi permintaan.

Di kuartal II 2019 pertumbuhan ekspor tercatat minus 1,81 persen (yoy), padahal pada kuartal II 2018 ekspor masih tumbuh 7,65 persen (yoy). Meskipun demikian, pertumbuhan ekspor di paruh kedua tahun ini menunjukkan perbaikan dibanding pertumbuhan minus 1,87 persen (yoy) pada kuartal I 2019.

“Yang turun adalah volume ekspor migas dan harga komoditas migas. Sementara ekspor nonmigas masih tumbuh positif,” ujar dia.

Ekspor migas pada kuartal II 2019 anjlok hingga minus 30,85 persen (yoy) atau jauh lebih dalam dibandingkan kuartal I 2019 yang minus 9,33 persen (yoy). Pada kuartal II 2018, ekspor nonmigas masih bisa tumbuh positif di 4,81 persen (yoy).

(Abdul Hamid)