Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Manggarai Barat, Melkior Nudin bertopi (Re'a), khas Manggarai, NTT (foto: Jef Dain)
Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Manggarai Barat, Melkior Nudin bertopi (Re'a), khas Manggarai, NTT (foto: Jef Dain)

Labuan Bajo, Aktual.com – Budaya patriarki dinilai sebagai salah satu faktor pendorong yang menyebabkan tindak kekerasan terhadap perempuan. Hal itu disampaikan oleh Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Manggarai Barat, Melkior Nudin kepada media ini, Sabtu, (17/07).

“Budaya patriarki masih kental di Manggarai, menganggap laki-laki sebagai pusat kekuatan dalam segala bidang kehidupan. Walaupun dalam faktanya, banyak perempuan mengambil peran penting dalam keluarga, terutama meningkatkan kesejahteraan. Ironisnya laki-laki menganggap diri superior dan perempuan inferior” pungkas Kadis DP2KBP3A Melkior Nudin.

Lebih lanjut, kata dia, budaya patriarki yang kental di Manggarai, NTT menyebabkan ketidaksetaraan gender. Kendati demikian, budaya ini tetap terpelihara dengan baik di tengah masyarakat. Pada akhirnya budaya patriarkal ini menjadi salah satu faktor pendorong kekerasan terhadap perempuan, seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, eksploitasi dan penelantaran.

“Hal paling kentara budaya patriarki itu kuat, dapat kita perhatikan di rumah. Misalkan buat kopi, sapu rumah, bersih piring, atau nyalakan kompor, itu harus perempuan. Lalu apakah laki-laki tidak bisa buat hal yang sama? Itu kan soal peran saja,” lanjutnya.

Kadis Melkior Nudin juga menyoroti soal pandangan yang keliru terkait belis (paca) di Manggarai. Ada persepi yang keliru tentang hal ini yang perlu diluruskan. Jika belis (paca) sudah lunas, suami dengan bebas mengatur dan mengendalikan isteri.

“Bahaya yang muncul ketika persepsi belis (paca) dalam budaya Manggarai didefinisi secara salah. Banyak orang beranggapan, kalau sudah belis (paca), suami berhak penuh dalam mengendalikan isteri. Itu sangat keliru,” tegasnya.

(Florianus Jefrinus Dain)

(Nusantara Network)