Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey T. Machmudin mengatakan Presiden Jokowi telah menjadwalkan kunjungan kerja ke berbagai daerah tahun ini untuk mengedukasi sekaligus mengingatkan bahaya stunting kepada masyarakat.

Beberapa daerah, bahkan telah ditetapkan sebagai prioritas daerah yang ditangani dalam kasus stunting, yakni untuk tahap awal ada 100 kabupaten prioritas yang akan ditangani lebih dulu, baru kemudian 200 kabupaten lainnya.

Dari beberapa kabupaten yang dijadikan prioritas itu merupakan daerah yang mempunyai angka balita stunting tertinggi, seperti di Sulawesi Tengah, NTT, Bali, hingga Papua.

Menurut Bey, Presiden Jokowi sangat menyadari bahaya stunting yang menjadi persoalan berat lantaran juga menurunkan kemampuan tubuh dalam membakar lemak sehingga memicu timbulnya penyakit lain, seperti diabetes, jantung, hingga stroke.

Supaya hal tersebut tidak terjadi, tidak ada cara lain untuk memperbaiki pola makan anak, juga tentunya pemberian ASI dan MPASI pada bayi. Stunting harus diselesaikan dengan paradigma dan pendekatan baru yang holistik dan berdasarkan keilmuan.

Anak harus mendapatkan asupan gizi seimbang termasuk bayi yang sudah berusia enam bulan lebih perlu diberikan MPASI pangan hewani, buah-buahan, dan sayuran sebagai pelengkap.

Jadi pengentasan stunting itu bukan sekadar dengan biskuit, akan tetapi dengan pemberian ASI yang tepat, mengubah pola makan, dan mencukupi kebutuhan gizi harian bayi dan anak dan jika diperlukan bisa menggunakan makanan khusus sesuai anjuran dokter anak.

Sebagaimana disebutkan Anggota DPR RI Komisi IX Yusuf Macan Effendi bahwa indikator stunting yang masih tinggi di Indonesia juga sejatinya bukan semata masalah gizi, namun faktor lingkungan, sosial, budaya, akses pada fasilitas kesehatan, hingga pemahaman akan kesehatan balita dan ibu hamil.

Di sisi lain, menurut pria yang lebih dikenal sebagai Dede Yusuf itu, faktor makanan yang dikonsumsi juga sangat berpengaruh pada kasus stunting.

Bahkan, kata dia, masyarakat di ibu kota yang memiliki kemudahan akses kesehatan juga masih ada saja yang mengalami balita stunting sehingga menjadi pekerjaan rumah bersama untuk menjadikan stunting sebagai kerja lintas pemangku kepentingan.

Sementara peran pemerintah tetap diperlukan sebagai panglima untuk mengatasi persoalan.

Maka dari titik itulah kemudian diharapkan ada cara inklusif untuk menyelamatkan generasi di Tanah Air dari ancaman stunting yang kian menyedihkan.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: