Jakarta, aktul.com – Siapa yang mencitai sesuatu maka ia akan banyak menyebutnya, begitulah kata-kata bijak yang sering didengar, dalam mencintai, islam sudah mengatur arah percintaan, mana yang harus dicintai dan nama yang tidak harus dicintai, di antara yang tidak perlu dicintai menurut para sufi adalah dunia, tetapi bukan berarti mereka menganjurkan untuk meninggalkan keduniawiaan, karena dunia perlu diatur tetapi mereka melarang untuk dimasukan didalam hati, bisa dikatakan semboyannya “tangan bekerja, hati berdzikir”.

Dalam ajaran islam, cinta yang harus di prioritaskan bagi seorang mukmin adalah cinta kepada nabi Muhammd saw, sebagaimana sabdanya “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. [HR Bukhari]

Memprioritaskan cinta kepada nabi Muhamammad saw memang sesuatu yang layak, karena tanpan nabi Muhamammad manusia akhir zaman tak akan menggenal Tuhannya, tak akan mengenal syariat, tak akan mengenal adab dan nilai-nilai kebaiakan, bahkan alam semesta pun tidak akan diciptakan tanpa nabi Muhammad, sebagaimana pernyataan  imam al-Bushiri dalam Burdah-nya “Bagaimana kalau bukan karena dirinya niscaya dunia ini takkan keluar dari ketiadaannya” dan kepatutan untuk mengutamakan cintai kepada nabi Muhammad saw adalah karena ia merupakam manusia yang paling mencintai umatnya dibanding umatnya mencintai dirinya sendiri dan karena nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia yang paling diharapkan pertolongannya di akhirat kelak.

Mencintai rasulullah merupaka asas dalam beragama, karena tapa mencintainya seseorang akan sulit sekali dapat menjalankan keislamannya dengan baik, karena dengan mencintainy,a seseorang akan tergerak untuk mengetahuinya yang akhirnya senang untuk mengikutinya, semakin tinggi sesorang mengikutinya maka semakin tinggilah keislamannya.

Dalam kitab Tarbiyah al-Aulad karya Abdullah Nasih, dikatan, nabi Muhammad saw pernah bersabda “ Ajarilah anak-anak kalian tiga perkara: mencintai nabi, mencintai keluarga nabi dan membaca al-Qur’an”. Dalam hadist ini terlihat urutkan pertama dalam mendidik anak adalah mencintai nabi dan yang terakhir adalah mengajari al-Qur’an.

pada zaman sekarang kebanyakan anak-anak hanya diajari al-Qur’an tetapi tidak diajari untuk mencitai nabinya, yang akhirnya mereka jauh dari nilai-nilai keislaman dan jauh dari akhlak yang mulya, sebab mereka tidak mengerti suri tauladan yang baik, akibatnya mereka salah menentukan idola dalam kehidupannya.

Maka sangat penting sekali untuk menumbuhkan, membesarkan dan menyebarkan kecintaan terhadap nabi Muhammad saw dengan banyak membaca shalawat, membaca perjalanan hidupnya, membaca haditsnya dan hadir di majlis-majlis yang disebut namanya. [Eko]

(Zaenal Arifin)