Koordinator ICW Adnan Topan Husodo, Host Margi Syarif, Waketum Gerindra Ferry Julianto, Ketua PP Muhammadiyah Dahnil Anzar dan Wakil Ketua Pansus KPK, Masinton Pasaribu, saat diskusi polemik di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (5/8). Masinton Pasaribu mempertanyakan sikap Novel Baswedan yang masih enggan diperiksa polisi terkait teror penyiraman air keras. Menurut Masinton, penolakan Novel itu memperlambat kinerja kepolisian. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, pihak Istana Kepresidenan belum merespons keinginan Rina Emilda, istri penyidik KPK Novel Baswedan untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

“Kami yang ada di sini itu menyampaikan pernyataan secara lisan kepada pihak Istana, permintaan agar Presiden berkenan menerima Mbak Emil,” kata Dahnil saat konferensi pers terkait perkembangan kondisi kesehatan Novel Baswedan dan penanganan kasus penyerangan Novel di kediaman Novel di kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara, Senin (28/8).

Dalam konferensi pers itu juga dihadiri oleh Rina Emilda, istri Novel Baswedan, aktivis HAM Haris Azhar, Direktur Eksekutif LBH Jakarta Alghifari Aqsa, Wakil Koordinator Bidang Advokasi Kontras Putri Kanesia dan Hasan perwakilan masyarakat di sekitar kediaman Novel.

Menurut Dahnil, pihaknya sudah menyampaikannya secara lisan maupun pesan WhatsApp kepada Menteri Sekretaris Negara Pratikno terkait penjadwalan pertemuan tersebut. “Kemudian beliau menyampaikan akan berusaha menjadwalkan pertemuan Mbak Emil dengan Presiden bahkan belakangan melalui Mas Johan Budi, kami menerima kabar bahwa Presiden meminta kalau nanti sudah dijadwalkan Presiden juga ingin bukan hanya bertemu Mbak Emil, tetapi juga Ibu dari Mas Novel.”

Namun kemudian, kata dia, pihak Istana Kepresidenan berharap ada surat resmi yang diajukan, tidak hanya dalam bentuk penyampaian secara lisan. “Memang sejak awal kami tidak ingin mengirimkan surat resmi, tetapi kemudian karena ada permintaan dari pihak Istana terkait dengan surat resmi itu, kami memutuskan meminta Mbak Emil untuk menulis surat dengan tulisan tangan dan dikirimkan ke Istana.”

(Antara)

(Wisnu)
1
2