Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kiri) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, dan Dirut BEI, Inarno Djayadi menarik lonceng menandai pembukaan perdagangan saham perdana di tahun 2019 di Main Hall, Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (2/1/2019). Pada pembukaan perdagangan hari pertama tahun ini di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (2/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) langsung terangkat ke posisi 6.205,89, atau naik 0,18%. Kendati demikian, perlahan-lahan IHSG tertekan ke zona merah hingga menyentuh titik 6.180,01, atau terkoreksi 0,23%. Kinerja IHSG senada dengan kinerja bursa saham di Asia yang juga mengalami koreksi pada hari ini, kecuali indeks PSEi Filipina yang hingga pukul 11.00 waktu setempat masih konsisten bergerak di zona hijau. AKTUAL/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pengendalian laju inflasi agar tetap berada dalam sasaran nasional dapat memberikan dampak positif menurunkan tingkat suku bunga acuan.

“Kalau bisa mengendalikan inflasi maka tingkat bunga juga akan turun,” kata Darmin dalam acara Rakornas Pengendalian Inflasi 2019 di Jakarta, Kamis (25/7).

Darmin mengatakan pengendalian laju inflasi sudah dilakukan secara optimal oleh pemerintah dengan pencapaian kisaran tiga persen selama empat tahun terakhir dan dalam rentang sasaran 3,5 persen deviasi satu persen.

Untuk itu, upaya stabilisasi inflasi akan terus dilakukan karena bisa memberikan kepastian terhadap ketahanan ekonomi nasional melalui berbagai inovasi dengan penggunaan teknologi informasi serta pembangunan infrastruktur.

“Contohnya dengan membangun jalan provinsi, kabupaten atau desa yang terkoneksi dengan jalan tol, sehingga pusat produksi dapat terhubung langsung ke pasar tujuan,” kata Darmin.

Selain itu, pemerintah daerah dapat membantu kelancaran distribusi dengan membangun pasar pengumpul, menyediakan transportasi barang, memanfaatkan platform e-commerce dan menjalankan sistem pergudangan berbasis TI.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan upaya pengendalian inflasi harus dilakukan seperti menjaga kestabilan tekanan darah, karena inflasi tidak boleh terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu rendah.

Bila terlalu tinggi maka rakyat akan menderita karena harga kebutuhan tidak terjangkau dan kalau terjadi deflasi maka pengusaha akan merugi karena harga barang akan stagnan dan tidak mempunyai daya jual.

“Jadi harus ingat, inflasi ini sebagai tekanan darah yang harus stabil. Untuk itu, harus ada harmoni antara kebijakan moneter, kebijakan fiskal pemerintah dan kesempatan pengusaha untuk berusaha,” ujarnya.

Sedangkan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan rendahnya inflasi yang diperkirakan pada akhir tahun berada di bawah sasaran 3,5 persen plus minus satu persen dapat memberikan ruang terhadap kebijakan moneter yang akomodatif.

“Kami sudah menurunkan suku bunga untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi. Dengan rendahnya inflasi dan momentum pertumbuhan ekonomi, maka terbuka ruang untuk kebijakan moneter akomodatif,” katanya.

(Arbie Marwan)