Perusahaan yang bergerak di Industri teknologi ini tercatat sebagai emiten ke 52 yang melantai di bursa. Saham DIVA dibuka resmi dan langsung melonjak ke harga Rp 3.350, meningkat 13,56% dari harga perdana. Selama penawaran awal, DIVA mengantongi kelebihan permintaan sebesar 5,6 kali lebih tinggi dari jumlah saham yang dilepas. Saat dibuka, saham perseroan ditransaksikan 64 kali dengan nilai Rp 4,32 miliar. AKTUAL/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com – Defisit transaksi berjalan Indonesia meningkat menjadi 3,04 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar 8,44 miliar dolar AS pada kuartal II-2019, dari 6,96 miliar dolar AS pada kuartal I 2019 karena penurunan kinerja ekspor ditambah faktor musiman repatriasi dividen atau pembagian keuntungan perusahaan ke luar negeri di paruh kedua tahun ini.

“Kenaikan defisit transaksi berjalan dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan harga komoditas yang turun,” kata Bank Indonesia dalam statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode kuartal II 2019 yang diumumkan di Jakarta, Jumat (9/8).

Oleh karena defisit transaksi berjalan yang melebar, NPI atau “Balance of Payment” Indonesia juga menjadi defisit dua miliar dolar AS di kuartal II 2019. Secara tahun berjalan sejak awal tahun hingga akhir semester I 2019 ini, NPI masih mencatatkan surplus 0,4 miliar dolar AS.

Sebagai gambaran, dalam komponen neraca transaksi berjalan, terdapat neraca transaksi perdagangan barang, neraca jasa, neraca pendapatan primer dan juga neraca pendapatan sekunder.

Dari keempat komponen tersebut, pos perdagangan barang dan pendapatan primer adalah dua komponen yang paling menekan transaksi berjalan pada kuartal II-2019.

(Abdul Hamid)