Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto bersama Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Selasa (27/3) malam. AKTUAL/ Teuku Wildan.

Jakarta, Aktual.com – Di tengah perhelatan World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2019 di Davos, Swiss, 22-25 Januari 2019, Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto memaparkan Indonesia Economic Outlook, tepat di hari pembukaan Indonesia Pavilion.

Sesi presentasi Indonesia Economic Outlook ini mengusung tema ‘Making Indonesia 4.0’ sebagai respons atas perkembangan industri kini yang dipengaruhi oleh fenomena ‘glokalisasi’ dunia.

Selama tahun 2015-2018 lalu, kata Menperin, Indonesia menikmati pertumbuhan pesat di lima sektor manufaktur utamanya: kuliner, elektronik, otomotif, bahan kimia dan tekstil & pakaian. Diperkirakan, pertumbuhan ini akan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.

“Secara keseluruhan, Indonesia menorehkan prestasi pertumbuhan rata-rata 4,87 persen sementara rata-rata pertumbuhan manufaktur mencapai nilai Rp2.555,8 triliun. Di tataran global, Indonesia meraih peringkat ke-5 dalam daftar World Rank of Manufacturing Value Added dengan raihan 20.5 persen,” ungkap Airlangga, dalam keterangan resminya, Rabu (24/1).

Dia menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,3% tahun 2019, sementara sektor manufaktur diprediksi menjadi penggerak perekonomian Indonesia melalui peningkatan produktivitas, investasi dan ekspor.

Kementerian Perindustrian Indonesia telah menyiapkan sejumlah arahan kebijakan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi di negara ini.

Ada tiga arahan kebijakan yang dirancang untuk 2020-2024 nanti, yang mencakup, pertama, peningkatan produktivitas; kedua, peningkatan daya saing ekspor manufaktur; dan ketiga, penguatan strategi industri migas.

“Ini dilaksanakan di bawah kampanye Making Indonesia 4.0,” katanya.

Dengan begitu, Menperin meyakini inisiatif ini dapat mendongkrak PDB secara umum, kontribusi menufaktur dan kesempatan kerja.

“Target yang ingin diraih adalah pertumbuhan PDB kurang lebih 1-2 persen p.a., membuka lebih dari 10 juta lapangan kerja tambahan dan lebih dari 25 persen kontribusi PDB sektor manufaktur, semua pada tahun 2030,” jelas dia.

Kelima sektor yang telah disebutkan di awal tadi, terpilih menjadi sektor prioritas untuk program Making Indonesia 4.0. Didukung dengan kebijakan insentif tax holiday baru yang berlaku hingga 20 tahun untuk  investasi lebih dari € 3 M di 18 sektor, Indonesia menghadapi perkembangan industri yang besar di waktu-waktu mendatang.

(Zaenal Arifin)