Jakarta, aktual.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyoroti kondisi internal kementeriannya, terutama terkait pola pikir generasi muda aparatur yang dinilai perlu dibenahi. Ia menyebut ada kecenderungan yang harus segera diluruskan agar tidak berkembang menjadi praktik yang merugikan negara.
Dody mengaku fokus pada pembenahan internal PU sejak dirinya ditugaskan, bukan semata pada pembangunan infrastruktur. “Memang betul, tugas saya cuma satu, gak banyak, bukan bangun jembatan, tugas saya bersih-bersih,” ujarnya.
Ia menilai masih banyak pegawai yang bekerja dengan baik dan berkontribusi terhadap upaya pengawasan di lingkungan kementerian. Menurutnya, laporan yang sampai ke aparat penegak hukum juga merupakan hasil kerja internal.
“Kalau gak ada orang baik di PU, kan gak mungkin, ada laporan juga kejaksaan oleh bu Sekjen dan Irjen PU, itu gak mungkin,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya budaya yang perlu diperbaiki. Dody menyebut praktik koruptif dan permisif masih ditemukan di sejumlah unit organisasi.
Ia menekankan bahwa pembenahan harus dimulai dari sistem, termasuk pemberian batas waktu dan penegakan aturan yang konsisten. Salah satu contoh yang disorot adalah kebiasaan kecil yang dianggap keliru.
“Makan siang itu kan sebetulnya sudah masuk ke dalam bagian daripada gaji kita masuk berkening. Tapi, masih juga minta dilayani oleh negara di tempat kerja. Itu sebetulnya korupsi,” ucapnya.
Dody juga menegaskan pentingnya penindakan tegas terhadap pelanggaran. Ia tidak ingin praktik lama yang hanya memindahkan pegawai bermasalah ke posisi lain terus terjadi.
“Saya maunya, kalau memang eselon I-nya salah, ya eselon I-nya masuk penjara gitu. Bukan kemudian kalau eselon I-nya salah, dibuang ke eselon II, dibuang ke eselon III, atau dibuang ke eselon X gitu,” katanya.
Ia kemudian menyinggung kondisi generasi muda di kementerian yang menurutnya perlu perhatian serius. “Hari ini menurut saya, generasi muda PU sudah agak-agak korslet sedikit otaknya itu. Nah itu harus saya cuci,” ujarnya.
Menurut Dody, ada kecenderungan sebagian pihak yang berambisi mengejar jabatan struktural seperti eselon I, eselon II, hingga eselon III dengan cara yang tidak benar. “Generasi muda PU hari ini menurut saya akan berlomba-lomba mencuri uang APBN untuk bisa mendapatkan jabatan eselon I, eselon II, eselon III secepat-cepatnya. Nah itu gak boleh kan?” katanya.
Ia menambahkan bahwa langkah pembenahan sudah mulai dilakukan, termasuk melalui pelaporan ke aparat penegak hukum. Namun, ia menegaskan proses tersebut berjalan sesuai mekanisme dan tidak semua informasi terbuka ke publik.
Dody juga mengingatkan agar tidak melakukan generalisasi terhadap seluruh pegawai kementerian. Ia menolak anggapan bahwa semua aparatur memiliki perilaku yang sama.
“Jadi ya gak boleh mas, gak boleh kita suudzon pada seluruh PU. Bajingan semua jangan begitu lah, gak boleh begitu lah. Pak Sutami bisa bangkit dari kubur kalau gitu caranya,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga marwah Kementerian Pekerjaan Umum sebagai institusi yang memiliki sejarah panjang. Dody menyatakan keyakinannya bahwa masih banyak pegawai yang berintegritas.
“Saya yakin, saya tetap hakul yakin masih banyak warga PU yang tidak seperti itu,” ujarnya.
Dalam upaya pembenahan, Dody juga mengajak semua pihak untuk tetap optimistis. Ia mengibaratkan proses perbaikan seperti penanganan penyakit yang membutuhkan tahapan. “Kita harus optimis. Ya nanti kalau gak berhasil ya kita cari cara lain. Mesti begitu terus,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:
Achmat
Eka Permadhi






















