New York, Aktual.com – Kurs dolar Amerika tergelincir pada akhir perdagangan Senin (Selasa 18/5 pagi WIB), terseret oleh kecemasan inflasi, diperburuk oleh rekor harga tinggi yang dibayarkan dalam survei manufaktur regional AS, menguntungkan mata uang berisiko dengan mengorbankan greenback.

Tetapi imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun sedikit berubah ketika para pelaku pasar mencari petunjuk mengenai toleransi Federal Reserve untuk inflasi jangka pendek dan menengah.

“Mengingat sejak aksi jual dolar pekan lalu, dolar belum mampu rebound banyak, ini memberi tahu saya bahwa penggeraknya bukanlah pasar mata uang asing tetapi pasar suku bunga,” kata Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Forex di New York.

“Dan tanpa suku bunga yang lebih tinggi, sulit untuk melihat bagaimana dolar mendapatkan daya tarik yang besar.”

Federal Reserve AS diperkirakan akan merilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter April pada Rabu (19/5/2021), di mana pelaku pasar akan meneliti petunjuk mengenai pandangan bank sentral tentang lonjakan inflasi saat ini.

“The Fed masih mengatakan mereka akan sangat sabar,” tambah Chandler. “Jika AS tidak menawarkan suku bunga yang lebih tinggi, dolar yang menanggung bebannya, dan di situlah kami sekarang.”

Laporan Empire State dari hasil survei Federal Reserve New York menunjukkan rekor harga tertinggi yang dibayarkan oleh produsen di negara bagian New York ketika produsen material berjuang untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Indeks dolar terakhir turun 0,14 persen pada 90,157. Euro menguat 0,09 persen menjadi 1,2159 dolar AS dan dolar AS melemah 0,15 persen menjadi 109,175 yen Jepang.

Ketika ekonomi dibuka kembali untuk bisnis, kebangkitan permintaan dikombinasikan dengan kekurangan pasokan telah menempatkan harga-harga komoditas pada lintasan naik.

Penguatan harga minyak mentah mendorong dolar Kanada tetapi krona Norwegia melemah terhadap greenback. Dan meskipun harga logam lebih tinggi, dolar Australia juga melemah.

Chandler yakin kebijakan bank sentral memimpin dalam mempengaruhi nilai mata uang yang biasanya sensitif terhadap harga-harga komoditas.

Bitcoin turun ke level terendah tiga bulan setelah bos Tesla Inc, Elon Musk menyatakan selama akhir pekan bahwa pembuat mobil listrik itu mungkin telah menjual sebagian kepemilikan mata uang digitalnya. (Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)