Jakarta, aktual.com – Kian anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada posisi 14.303 per USD terus mendapatkan perhatian publik.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) misalnya. Ia mendesak agar kementerian atau lembaga (K/L) terkait untuk bertindak mengatasi permasalahan tersebut.

IMeski bisa dipahami, sambung Bamsoet, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap USD itu dipengaruhi beberapa hal termasuk faktor eksternal. Seperti, perang dagang AS dan China yang semakin meningkat, hambatan perdagangan di India dan Uni Eropa, serta kenaikan harga minyak mentah dunia.

Politikus Golkar itu mengatakan, kedua lembaga itu wajib mengingatkan diri sendiri, bahwa stabilitas nilai tukar menjadi suatu hal yang penting. Tidak terkecuali, ia berharap agar komisi XI DPR yang membidangi masalah keuangan, segera mengontak mitra kerjanya itu untuk segera bergerak.

“Mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memberikan insentif ekspor. Hal itu perlu dilakukan guna mendapatkan surplus perdagangan dan mengurangi neraca keseimbangan primer negatif,” ujar dia.

Di sisi lainnya,Bamsoet juga berharap ada langkah pasti dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Baginya, lembaga itu harus lebih proaktif dan progresif dalam melakukan hubungan kerjasama bilateral dan multilateral dengan negara-negara maju.

“Utamanya agar para pengusaha mereka datang menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini guna meningkatkan investasi ke dalam negeri. Sehingga, arus modal masuk akan membantu memperbaiki nilai tukar rupiah,” ucap mantan ketua komisi III DPR RI itu.

“Saya mengharapkan agar komisi di DPR terkait, seperti Komisi VI agar mengingatkan lembaga terkait mengenai masalah ini,” pungkasnya.

(Novrizal Sikumbang)