Sibolga, Aktual.com – Sejumlah anggota DPRD Kota Sibolga mengaku kecewa dengan pengelolaan even Sibolga Expo 2016. Dinas Perindakop Kota Sibolga bersama UKM disinyalir menipu pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) serta masyarakat.

“Kasarnya, kadis perindagkop dan UKM Sibolga, Robinhot Panjaitan bersama EO selaku pelaksana kegiatan secara terang-terangan telah mempermalukan Pemko Sibolga. Ironisnya, laporan panitia pelaksana bertolak belakang dengan kondisi rill di lapangan,” kata Anggota Fraksi Golkar DPRD Sibolga Zamil Zeb Tumori kepada wartawan, Jumat (1/4).

Menurut Zamil, klaim transaksi ekonomi pada Sibolga Expo 2016 yang mencapai Rp100juta perhari dengan jumlah kunjungan sebanyak 5.000 per hari merupakan sebuah kebohongan. Merosotnya ekonomi warga, lanjut Zamil dipastikan memicu penurunan omset penjualan pedagang.

“Itu pembohongan publik. Kita semua mengetahui, saat ini ekonomi masyarakat sedang lesu,” tandasnya.

Ditambahkan Zamil, keberadaan Event Organizer (EO) sebagai pelaksana kegiatan juga tidak lebih baik dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Soal konspirasi, sambungnya, ditengarai sistem kerjasama antara Disperindagkop dan UKM dengan pihak EO yang tak jelas. Pasalnya tak diketahui berapa besar anggaran yang harus dibayarkan Pemko Sibolga kepada EO.

“Seharusnya, besaran anggaran itu tertera dalam kontrak kerjasama, tetapi mengambang dan terindikasi ada konspirasi didalamnya,” bebernya.

Zamil menambahkan, sejumlah persoalan juga terjadi dalam pengelolaan Sibolga Expo. Misalnya, soal pungutan yang dinilai tak wajar kepada pedagang. Pungutan itu antara Rp3 hingga Rp5 juta per stand. Padahal, lanjutnya tak ada satupun produk regulasi yang mengatur tentang penetapan harga stand tersebut.

“Maka pungutan itu tidak ada dasar hukumnya. Itu sama halnya membunuh usaha sekaligus mempermalukan pedagang lokal maupun pedagang yang datang dari luar daerah,” ungkapnya.

Lebih jauh, Zamil mengatakan, berbagai laporan keluhan tentang sikap EO yang arogan juga telah ia terima. Yakni, soal penutupan stand bersamaan dengan perayaan puncak Hari Jadi Sibolga ke 316 pada tanggal 2 April, besok. Ternyata, janji itu tidak ditepati, dimana EO telah meminta para pedagang untuk membongkar dagangannya pada Kamis 31 Maret kemarin.

“Artinya pihak EO tidak bertanggungjawab dengan pedagang. Hanya mengambil uang layaknya preman saja. Bila pedagang digusur, maka oknum Kadis Perindagkop dan UKM bersama pihak EO akan kita laporkan ke aparat penegak hukum,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Hendra Sahputra dari Nasdem menambahkan, dirinya menilai Sibolga Expo 2016 yang dilaksanakan tahun ini sebaliknya mengalami kemunduran dibanding tahun sebelumnya. Dimana, partisipasi lintas instansi dinilai sangat minim.

“Kita tidak melihat partisipasi swasta, BUMN, BUMD dan lainnya dalam kegiatan ini,” tukasnya.

Sementara itu, Kadis Perindagkop dan UKM Sibolga, Robinhot Panjaitan ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, membantah pihaknya melakukan konspirasi dengan pihak Even Organizer (EO).

Robinhot yang mengaku tengah di luar kota itu menyebutkan, soal anggaran SKPD memiliki tanggung jawab masing-masing.

“Kerja sama dengan pihak EO itu jelas kok, anggarannya dibayarkan oleh masing-masing SKPD yang berpartisipasi pada Sibolga Expo 2016,” ucapnya singkat.

Artikel ini ditulis oleh: