Aktivis Ratna Sarumpaet memberikan keterangan kepada wartawan mengenai kasus dugaan penganiayaan terhadap dirinya di Jakarta, Rabu (3/10). Dalam keterangannya Ratna Sarumpaet menyanggah adanya penganiayaan terhadap dirinya dan meminta maaf atas kehebohan yang sempat ramai sejak kemarin. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Angkatan Pelajar Islam Jakarta (API-Jakarta) menyebutkan adanya dua kasus yang telah menutupi drama kebohongan Ratna Sarumpaet yang sempat menggegerkan publik pada beberapa waktu lalu.

Kasus pertama adalah mencuatnya Indonesialeaks yang cenderung ingin melemahkan pihak kepolisian yang sebelumnya sedang menyelidiki kasus kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.

Kasus selanjutnya adalah pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang terjadi di Garut, Jawa Barat, Senin (22/10). Ketua API-Jakarta Daeng Kuncoro menuding adanya pihak-pihak yang mendompleng insiden ini untuk menimbun kebohongan Ratna.

Indonesialeaks bagian dari upaya pengalihan isu disaat Polri mengusut tuntas kasus drama Ratna Sarumpaet. Selanjutnya pembekaran bendera sengaja digoreng terus dan sasaran tembaknya adalah ketidakpercayaan kepada Presiden Jokowi,” ungkap Daeng Kuncoro, dalam acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (26/10).

Sementara itu, salah satu alumni 212 yang juga mantan kuasa hukum Habib Rizieq, Kapitra Ampera menyarankan kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian agar bertindak lebih tegas terhadap isu-isu yang menyerangnya. Terlebih, baru-baru ini Kapolri kembali diserang hoaks surat pemanggilan oleh KPK.

“KPK sudah membantahnya dan Polri mengejar penyebar hoaks tersebut. Ini ada upaya pembunuhan karakter dan kita minta juga Pak Tito harus tegas, jangan dibiarkan,” ujar Kapitra.

Menurut Kapitra, penyakit ini harus segera diamputasi agar isu ini tidak menyebar. Dia mengakui bahwa hoaks sengaja dimainkan untuk merebut kekuasaan, apalagi Jokowi dinilai terlalu cukup kuat untuk dikalahkan.

“Maka harus dikalahkan dengan hoaks. Capres yang lain tidak ada pemikiran kebangsaan adanya hoaks-hoaks dan hoaks saja. Kalau pilih pemimpin hoaks maka akan dapat kesejahteraan hoaks pula,” tambah Kapitra.

Di tempat yang sama, Pengamat Hukum sekaligus Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Salestinus menyebut ada pihak yang memanfaatkan Indonesialeaks. Maka itu, dia mengajak publik untuk cerdas melihat fenomena ini sebab ada upaya untuk menutup kasus Ratna Sarumpaet.

‘Masyarakat sudah cerdas dan ada upaya untuk menutup kasus Ratna Sarumpaet,” tandasnya.

(Teuku Wildan)