Jakarta, Aktual.com – Dua tahun sudah Presiden Joko Widodo memimpin perahu besar bernama Indonesia, namun selama itu pula Presiden tidak juga menemukan ritme pemerintahan yang benar-benar bekerja kepada negara dan rakyat.

“Dua tahun rejim ini (masih) sibuk memperkuat kekuasaan dan sibuk dengan segala kegaduhannya baik di internal kabinet maupun kegaduhan ditengah publik akibat ulah kabinet pimpinan Presiden Jokowi,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean, Kamis (20/10).

Salah satu sektor yang tingkat produksi kegaduhannya mendominasi sejak Jokowi menyusun kabinet adalah Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kementerian ini tercatat sudah dipimpin oleh 4 menteri dalam dua tahun terakhir, dimana salah satunya adalah Plt yang cukup lama.

Diawali oleh Sudirman Said dan berganti ke Archandra Tahar yang tercatat paling sikap menjadi menteri hanya 20 hari, kemudian dilanjutkan Plt Menteri ESDM Luhut Panjaitan dan sekarang oleh Ignasius Jonan didampingi Archandra Tahar.

“Menteri dan Wamen (seperti) daur ulang dari kegagalan kinerja kabinet. Sudah dibuang, diambil lagi, seolah negara ini tidak lagi memiliki sumber daya manusia yang mampu,” kata Ferdinand.

Meski sekali lagi, ia menghormati penuh hak prerogratif Presiden, namun bagaimanapun sikap kritis masyarakat adalah bagian pengawasan dan kontrol. Bukan sebaliknya dianggap menyerang pemerintah sehingga harus diancam buldozer oleh Menko Maritim Luhut Panjaitan.

Awal kabinet terbentuk, sektor ESDM punya mimpi mulia dan tugas berat dari Presiden. Mimpi dan tugas itu diantaranya adalah pemberantasan mafia migas, evaluasi kontrak Freeport, Revisi UU Migas, megaproyek listrik 35.000 MW, pembangunan kilang minyak dan peningkatan angka lifting produksi minyak serta pembangunan smelter.

Ferdinand juga mengkritik pemberantasan mafia migas yang layaknya menetapkan tujuan perjalanan ke Utara tapi menempuh jalan ke Selatan hingga tujuan akhirnya tidak pernah tercapai karena salah jalan.

“Masih banyak masalah di sektor ESDM yang tidak tertangani secara tepat. Sektor ini butuh sentuhan sosok yang paham masalah dan paham solusi atas masalah tersebut. Mengapa Presiden berlama-lama menunjuk menteri defenitif dan sekalinya menetapkan menteri, justru yang dipilih orang yang tidak tepat disektor ini,” kata dia.

“Semoga Pemerintahan ini segera sadar betapa pentingnya sektor ESDM ini diurus dengan benar oleh orang yang tepat karena sektor ini adalah salah satu nadi kehidupan bangsa,” sambungnya.

 

*Sumitro

Artikel ini ditulis oleh: