Jakarta, Aktual.com – PT Pertamina membantah anggapan publik bahwa dengan melakukan impor LNG dari ExxonMobil maka kargonya akan dibawa dari negara Amerika Serikat (AS). Hingga dalam perhitungannya akan membebankan biaya transportasi dengan jarak tempuh yang jauh.

Direktur Migas Pertamina Yenni Andayani di Kementerian ESDM, Kamis (27/4), menegaskan bahwa anggapan itu tidaklah benar. Menurutya Pertamina bisa mendapatkan gas milik ExxonMobil dari berbagai produksi fasilitas yang terdekat dengan Indonesia.

“Tolong dimengerti, kalau beli dari ExxonMobil, perusahan Amerika, lau bukan berarti bawa kargo dari Amerika. ExxonMobil memiliki portopolio volume atau portopolio kapasitas di berbagai lokasi di seluruh dunia. Jadi itu adalah fleksibelitas, dimana kalau kita beli dari ExxonMobil bisa dapat dari tempat yang terdekat,” katanya.

“Sumber mereka yang terdekat dari Indonesia, ada Papua New Guinea, kemudian di Qatar, mereka punya benerapa fasilitas. Jadi intinya kami membeli Kargo international oil company, dimana volume mereka tidak hanya tergantung dari satu producer facility saja,” sambung Yenni.

Peneliti ekonomi energi UGM yang juga mantan Tim Tatakelola Migas, Fahmy Radhi, mensinyalir pembelian LNG itu akan diambil dari hasil eksploitasi Exxon dari blok migas yang ada di perairan laut Natuna Indonesia. Hal ini tentunya membuat Fahmy Radhi merasa prihatin.

“Saya perkirakan impor LNG itu akan diambilkan dari hasil eksplorasi dari lahan gas Natuna, yang saat ini dikuasai oleh Exxon. Kalau benar, sungguh amat ironis bagi Indonesia. impor LNG yang gas-nya diperoleh dari lahan gas dalam negeri milik Indonesia sendiri,” katanya.

Untuk diketahui, kedatangan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Michael Richard Pence, beberapa pekan yang lalu telah menyepakati beberapa kontrak bisnis, diantaranya kesepakatan impor LNG antara ExxonMobil dengan PT Pertamina

Pertamina bakal mengimpor gas dari ExxonMobil sebanyak 1 juta ton tiap tahun mulai dari 2025 sampai 2045.

(Dadangsah Dapunta)

()