Jakarta, Aktual.com — Kebijakan Bank Indonesia (BI) selama ini sudah dianggap sangat akomodatif untuk menggenjot sektor perbankan menjadi lebih sehat, sehingga akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan menekan inflasi.

Namun sayangnya, pemerintah tidak menyambut baik dengan kebijakan-kebijakannya, terutama dalam rangka menekan laju inflasi. Satu komponen yang mendasar adalah penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mestinya diturunkan oleh pemerintah.

Menurut Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto, inflasi berpotensi untuk berada di posisi yang jauh lebih rendah, jika pemerintah merealisasikan penurunan bahan bakar minyak (BBM) secepat mungkin.

“Karena penurunan harga BBM termasuk komponen inti yang memengaruhi inflasi. Sehingga dapat menggenjot daya beli masyarakat,” tandas dia dalam diskusi Jakarta Economic Media Forum di Jakarta, Selasa (22/3).

Saat ini, kata Ryan, inflasi Februari 2016 mencapai 4,42 persen (year-on-year) dan kemungkinan akan terus menurunkan setelah BI akomodatif dengan kebijakan penurunan suku bunga acuannya (BI Rate).

“Tahun ini inflasi bisa 4 persen. Selain penurunan harga BBM, pemerintah juga harus menjaga harga pangan bergerak sebulan sebelum bulan puasa dan lebaran,” tandas dia.

Dia menambahkan, penurunan inflasi dari komponen-komponen tersebut yang merupakan administered prices ini diyakini mampu berkontribusi besar terhadap peningkatan daya beli masyarakat.

Sejauh ini, langkah BI cukup agresif dalam menurunkan BI Rate. Ini bentuk sikap akomodatif terhadap kondisi ekonomi. Apalagi kebijakan itu diiringi dengan perbaikan fundamental ekonomi dengan menurunkan suku bunga deposit facility dan lending facility.

“Bahkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer berdenominasi rupiah juga turun. Ini bisa merelaksasi likuiditas yang sebelumnya mengetat,” tandas dia.

Dia juga memperkirakan, hingga akhir tahun, BI Rate akan berada di kisaran 6 dengan posisi saat ini di level 6,75 persen.

“Masih ada ruang Dewan Gubernur BI untuk menuurunkan BI Rate menjadi di kisaran minimal 6 persen, dengan catatan inflasi stabil di kisaran 3,5-4 persen,” pungkas dia.

(Nebby)