Bank Indonesia perkirakan pertumbuhan kredit perbankan 2017 cuma 8%. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Risiko penyaluran kredit (credit at risk) yang masih tinggi pada tahun ini diperkirakan akan membuat perbankan “wait and see” (menunggu dan melihat) untuk menyalurkan pinjaman, kata seorang ekonom senior.

Oleh karena itu, target pertumbuhan kredit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai Rencana Bisnis Bank tahun ini yang sebesar 12,2 persen (yoy) dinilai masih sulit tercapai.

“Memang rentang pertumbuhan kredit 10-12 persen (yoy) tetapi bukan tidak mungkin cenderung lebih menengah ke bawah ke 11 persen ke 10 persen,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Persero Tbk Anton Gunawan di Jakarta, Kamis (1/2).

Anton mengatakan “credit at risk” perbankan tahun ini masih berpotensi tinggi, meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) sudah menurun ke bawah tiga persen.

Tingginya “credit at risk” itu karena perbankan masih bersusah payah untuk membersihkan aset-aset pinjamannya.

Pada Januari 2018 “credit at risk” perbankan masih tinggi yakni sebesar 9,6 persen.

“Credit at risk” merupakan indikator yang mencerminkan risiko dari kredit kolektabilitas II sampai V ditambah dengan kredit yang direstrukturisasi.

Selain tingginya “credit at risk”, Anton menilai, permintaan kredit juga tidak akan terlalu tinggi karena debitur masih konsolidasi tahun ini sehingga lebih memilih untuk menahan ekspansi.

Di sisi lain, berkembang pesatnya pasar obligasi, akan membuat debitur korporasi lebih memilih untuk menerbitkan obligasi agar meraup pendanaan, ketimbang mengajukan kredit ke bank.

“Dari sisi permintaan, dan juga pembiayaan korporasi yang banyak lebih ke obligasi juga,” ujar dia.

Meskipun “credit at risk” naik, rasio kredit bermasalah sebenarnya menurun menjadi 2,59 persen (gross) di akhir 2017 dibanding 2016 yang sebesar 2,92 persen.

Sesuai RBB, OJK melihat kredit akan tumbuh 12,2 persen, sedangkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit di 10-12 persen (yoy).

 

Ant.

()