Irjen Polisi Tito Karnavian mengikuti upacara pengucapan sumpah jabatan sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/3). Irjen Pol.Tito Karnavian sebelumnya menjabat Kapolda Metro Jaya. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/pd/16

Jakarta, Aktual.com – Pengamat Kepolisian Alfons Loemau menilai calon kapolri Komjen Pol Tito Karnavian akan memikul tanggung jawab yang berat untuk membawa Polri ke arah yang lebih baik.

“Ekspektasi terhadap Tito besar. Semoga dia mampu bersikap tegas. Kalau dia terlalu toleran, nanti dia tidak punya wibawa. Semoga dia bisa punya sikap,” kata Alfons, di Jakarta, Jumat (17/6).

Menurutnya, salah satu yang harus diperbaiki di institusi Polri adalah budaya kolusi dan nepotisme. Ia mencontohkan masih adanya praktek yang mengharuskan anggota polisi memiliki kedekatan dengan panitia atau mau memberikan sejumlah uang tertentu agar lebih mudah untuk melanjutkan sekolah.

Selain itu, pihaknya mendapati bahwa budaya suap masih kental untuk membuat seseorang bisa diterima di Akademi Kepolisian (Akpol).

“Buka seluas-luasnya untuk orang ikut pendidikan. Jangan jadikan sekolah sebagai syarat untuk menduduki jabatan tertentu. Itu menyebabkan kekuasaan cenderung digunakan untuk korupsi,” katanya.

Selain itu, kata dia, upaya pendekatan yang dilakukan oleh Kepolisian dalam menangani masalah kamtibmas juga harus diperbaiki.

“Kulturnya harus bergeser dari pola represif ke pola preventif dan preentif,” katanya.

Di sisi lain, menurutnya, ada setumpuk PR yang ditinggalkan oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang belum selesai.

Kendati demikian, pihaknya optimistis jenderal bintang tiga itu mampu membawa angin segar bagi kepolisian karena melihat usia pensiun Tito yang masih lama yakni pada tahun 2022.

()