Pekerja membereskan stok beras di Gudang Beras Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (26/1/2018). Ketua MPR Zulkifli Hasan minta pemerintah untuk membatalkan rencana impor beras. Karena pelaksanaan impor yang dilakukan bersamaan dengan panen raya akan merugikan petani. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi di daerah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan sampai Maret 2018. Cuaca ekstrem tersebut diperkirakan akan mengganggu produksi beras dalam negeri secara signifikan.

Pengamat Kebijakan Pangan Pertanian Jangkung Handoyo Mulyo mengatakan, perkiraan cuaca tersebut bisa mengurangi target pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian dan Bulog dalam menyerap padi. Terlebih, daerah yang terdampak cuaca ekstrem merupakan sentra produksi beras Indonesia.

“Jadi target penyerapan 2,2 juta ton sampai Juni, dengan adanya perubahan-perubahan iklim, banjir, angin, ini akan menurunkan produksi kita,” kata Jangkung saat dihubungi, Rabu (7/2).

Menurut dia, iklim merupakan faktor eksternal pendukung sektor pertanian dalam berproduksi. Selain itu iklim juga, lanjut Jangkung, tidak bisa dikendalikan, berbeda dengan benih, hama, dan pupuk.

Karena itu, pemerintah tidak bisa mengantisipasi iklim yang menyebabkan hujan, banjir, angin kencang, dan longsor.