Simpatisan melepas semen yang memasung kaki petani Kartini Pegunungan Kendeng yang menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/4). Aksi hari kedua menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Jawa Tengah tersebut berakhir dengan pelepasan pasung semen setelah Mensesneg Pratikno dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menemui demonstran sekaligus berjanji akan menyampaikan masalah tersebut kepada Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc/16.

Semarang, Aktual.com  — Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mencurigai adanya aktor-aktor tertentu yang sengaja menunggangi aksi penolakan pabrik semen di kawasan gunung Kendeng, kabupaten Pati.

Hal itu pula yang membuat sembilan orang ibu-ibu menyemen kakinya di depan Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Ini ada apa sebenarnya? Mengapa mereka harus menyakiti diri sendiri hanya untuk memprotes pabrik semen. Bapak-bapaknya kemana? kok harus ibunya yang melakukan itu. Saya juga bilang ke media massa, kalau itu kotak-kotak semennya bagus ya,” terang Ganjar usai menjadi pembicara dalam seminar empat pilar kebangsaan di Hotel Santika, jalan Pandanaran Semarang, Jumat (22/4) petang.

Ganjar memaparkan secara gamblang terkait status hukum yang sudah diputus Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Bahwa, persoalan kasus pabrik semen di Pati sudah selesai di meja pengadilan.

Meski begitu, dirinya mempersilakan kepada warga Pati yang tidak terima atas keputusan itu untuk menggugat izin analisis dampak lingkungan (Amdal) pabrik semen yang baru-baru ini telah diketok oleh Pemkab Pati.

“Dengan sikap konstitusional, saya mempersilakan mereka mengajukan keberatan atas Amdal yang baru saja disahkan oleh pemerintah daerah setempat. Saya bilang ke mereka, itu baru hangat-hangatnya dibuatkan Amdal, monggo kalau mau diprotes,” kata dia.

Sikap politikus PDI Perjuangan itu ditujukan guna mengurai berbagai kasus agraria yang muncul di wilayahnya. Terlebih lagi, untuk kasus pabrik semen sejatinya telah disetujui oleh pemerintahan sebelum dirinya menjabat.

“Jauh sebelum saya jadi gubernur perjanjian itu sudah diteken,” ujarnya.

Pihaknya mengaku dibully netizen gara-gara tidak menghadiri dialog terbuka ‘membaca Amdal’ dengan ibu-ibu Pegunungan Kendeng di gedung Thomas Aquinas Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Kamis (21/4) kemarin.

“Saya sempat dibully netizen yang ada di akun twitter karena tidak datang di Unika, tapi saya jelaskan panjang lebar tentang sikap saya yang menjunjung tinggi konstitusional berbangsa dan bernegara untuk menyelesaikan masalah tersebut,” aku Ganjar.

Ia pun menjelasan bahwa sikap konstitusional yang dilakukannya yaitu dengan memanggil para pihak yang memprotes pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng wilayah Pati. Namun sayangnya, setelah beberapa kali dipanggil pihak-pihak yang protes tak kunjung datang.

“Sudah empat kali saya panggil namun tidak pernah datang. Termasuk Mas Gunretno juga selalu saya undang menghadap saya untuk membicarakan pabrik semen,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh: