Jakarta, Aktual.com – Teka-teki kerjasama strategis antara dua anak perusahaan BUMN terbesar, Pertamina Power Indonesia (PPI), anak usaha PT Pertamina (Persero) dan Indonesia Power (IP), anak usaha PT PLN (Persero), akhirnya terungkap.

Proyek prestisius, yaitu mega proyek terintegrasi LNG FSRU-IPP Jawa-1 merupakan proyek PPI pertama yang masuk dalam kesepakatan kerjasama antara PPI dan IP itu.

Berdasar informasi dari sumber terpercaya, pembahasan dan kesepakatan pimpinan puncak PPI dan IP salah satunya dalam pembentukan joint ventura (JV) dan Operation & Maintenance (O&M) proyek IPP Jawa-1.

Sebelumnya, Direktur Utama dan CEO PPI Ginanjar menyatakan, bisnis kelistrikan merupakan teknologi yang sepenuhnya harus mampu ditangani anak bangsa. Sumber terpercaya itu menambahkan, karena IP sudah mempunyai pengalaman dalam O&M pembangkitan.

IPP Jawa-1 yang dipimpin PPI menggunakan teknologi terkini GE dan ternyata IP juga merupakan owner dan tentunya akan menjadi operator proyek pembangkit Tambak Lorok (800MW) yang juga menggunakan teknologi yang sama di IPP Jawa-1, yaitu 9HA.02. Ini merupakan contoh kolaborasi yang sempurna.

Kerja sama kedua perusahaan anak negeri ini juga merambah dan diperluas ke kerja sama bisnis internasional, yaitu Proyek IPP Bangladesh (1200 MW) yang saat ini sedang dikembangkan oleh PPI.

Sumber tersebut menegaskan, kerja sama di proyek Bangladesh ini bukan hanya di bidang O&M, namun IP juga masuk sebagai pengembang (developer) bersama PPI, yang merupakan Pimpinan Konsorsium, serta anggota lainnya dari perusahaan domestik Bangladesh.

Pembahasan mengenai ikut sertanya IP sebagai anggota konsorsium Proyek Bangladesh ini sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelumnya, yaitu pada saat IP masih dipimpin oleh Sripeni Inten, yang saat ini menjadi PTH Direktur Utama PLN.

Langkah-langkah strategis dan taktis yg dilakukan oleh PPI memang selalu mengejutkan industri kelistrikan Indonesia. Masuknya Pertamina ke bisnis kelistrikan (melalui PPI) sempat disalah-artikan publik sebagai ajang persaingan baru kedua perusahaan pelat merah tersebut, Pertamina dan PLN.

Dalam kesempatan terpisah, menanggapi pertanyaan mengapa kedua perusahaan yang dianggap bersaing tersebut justru kini berkolaborasi, Ginanjar menyebut, PPI tidak pernah bersaing dengan IP dan juga anak-anak perusahaan PLN lainnya, tidak semua tahu, PPI juga sempat berkolaborasi di proyek lain dengan PJB.

“Itu jadi teori-teori kolonialisme dan devide et Impera (adu domba), teori imperialisme. Di Indonesia, kita adalah suplementary PLN dan kolaborator anak perusahaan PLN. Di dunia internasional, kita tentunya akan selalu membawa expertise IP,” tandas Ginanjar di Jakarta, Selasa (8/10).

Ini sebenarnya, muncul manuver cantik dua anak perusahaan kedua BUMN dalam rangka meninggkatkan ‘local content’ di bidang kelistrikan, imbuh sumber terpercaya tersebut.

Apakah kolaborasi PPI-IP hanya di dua mega proyek itu? Sumber menyatakan, dalam pertemuan itu PPI mengindikasikan beberapa proyek masa depan yang sedang digarap PPI di berbagai tempat di Indonesia, termasuk proyek-proyek pembangkitan internal Pertamina seperti GRR Tuban, dan lainnya.

(Zaenal Arifin)