Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah) dan President Federal Reserve Bank of New York William C. Dudley (kanan) bersiap mengikuti sesi foto dalam Pertemuan Gubernur Bank Sentral atau Executives' Meeting of Asia Pacific Central Bank (EMEAP) ke-21 di Nusa Dua, Bali, Minggu (31/7). Pertemuan tersebut merupakan sarana untuk bertukar pandangan antar para pembuat kebijakan mengenai perkembangan ekonomi global dan isu regional sebagai salah satu bahan pendukung formulasi kebijakan masing-masing negara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd/16.

Jakarta, Aktual.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan para pembuat kebijakan moneter harus lebih kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan perekonomian global yang makin beragam.

“Tantangan utama adalah memelihara kesinambungan pertumbuhan ekonomi, dengan menjaga stabilitas sistem keuangan dan moneter, termasuk mitigasi dari pelarian modal,” kata Agus di Nusa Dua, Bali, Senin (1/8).

Saat ini, lanjutnya, terdapat tiga tantangan dalam perekonomian global yang membuat bank sentral harus lebih kreatif dan berinovasi dalam membuat kebijakan yang tidak konvensional untuk mengatasi dampak negatif perlambatan.

Tantangan pertama, menciptakan strategi mengejar target pertumbuhan seusai krisis global. Kedua, membuat kebijakan moneter yang optimal dan dapat ditempuh dalam perekonomian yang terbuka. Ketiga, mencapai stabilitas sistem keuangan meski ada keberagaman (divergen) kebijakan moneter dunia.

“Persoalan utama adalah mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, mengatasi masalah pengangguran dan pembangunan kapasitas bersamaan dengan pengambilan risiko sektor keuangan yang terlalu banyak, misalokasi sumber daya dan ancaman ke stabilitas pasar,” kata Agus.

Menurut dia, bank sentral harus mengambil inisiatif dengan membuat kebijakan untuk menjawab segala tantangan stabilitas serta memperkuat fundamental sistem keuangan global yang sesuai dengan perspektif negara maju dan berkembang.

Namun, meski stabilitas sangat dibutuhkan sebagai dasar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Agus mengingatkan fokus terlalu banyak ke stabilitas bisa menghambat ekspansi ekonomi dan berisiko terhadap keberlangsungan stabilitas itu sendiri.

“Untuk itu, sangat dibutuhkan keseimbangan dalam mencapai tujuan jangka panjang yang kuat, berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan fokus jangka pendek adalah mempertahankan kesinambungan dan stabilitas,” ujar Agus.

Agus menjelaskan Bank Indonesia, sebagai respon menghadapi persoalan global, telah melahirkan bauran kebijakan yang fokus terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, untuk menstimulasi momentum pertumbuhan ekonomi.

“Beberapa kebijakan itu didukung berbagai upaya untuk menjaga volatilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental ekonomi, memperkuat cadangan devisa dan mengelola arus modal asing,” kata mantan Menteri Keuangan ini.

(Eka)