Direktur Keuangan Tri Safri Family, Hendri Vertiwel
Direktur Keuangan Tri Safri Family, Hendri Vertiwel

 

Jakarta, Aktual.com – Prospek kenaikan harga nikel dunia membuat perusahaan pertambangan nikel menjadi primadona. Adapun beberapa sentimen tersebut karena naiknya kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Hal ini terjadi karena pengembangan mobil listrik atau electric vehicle (EV) dari sejumlah negara di dunia. Nikel memegang peran penting dalam pembuatan baterai lithium, yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

Direktur Utama Nice Nickel Indonesia (NNI), Rusman, mengatakan kinerja perusahaan akan mendapatkan sentimen positif karena kenaikan ini. Hingga saat ini pihaknya telah mengantongi perjanjian penjualan nikel dalam jumlah besar dengan pihak smelter. “Kami akan merilis dalam waktu dekat saat pengiriman diawal bulan (Mei),” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Keuangan Tri Safri Family, Hendri Vertiwel mengatakan pihaknya optimis dengan kenaikan harga Nikel dalam beberapa waktu mendatang akan berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan. “Permintaan yang datang pada kami sejauh ini cukup tinggi. Dalam proyeksi kami, kenaikan harga akan berlangsung konsisten hingga akhir tahun,” jelasnya pada wartawan. Adapun Tri Safri Family merupakan perusahaan nikel berbasis di Buton Utara, Sulawesi Tenggara, yang merupakan anak perusahaan Nice Nickel Indonesia.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengutarakan hal yang sama. Menurutnya pemulihan ekonomi nasional dan global serta masifnya produksi mobil listrik membuat harga nikel cenderung bergerak naik. Ia memprediksi perusahaan nikel akan meningkatkan kapasitas produksi. “Secara jangka pendek karena ada kenaikan pasokan membuat harga bergerak fluktuatif, namun ini hanya efek sementara,” jelasnya.

Indonesia berkontribusi sekitar 30% dari produksi nikel dunia dan 22% dari cadangan global. Pada 2020 Indonesia memproduksi 760 ribu ton nikel dengan cadangan sekitar 21 juta ton. Pada Januari 2020, pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel yang belum diolah. Hal ini mendorong investasi smelter dalam negeri yang membuat kapasitas produksi nikel tetap stabil.

Hendri Vertiwel mengatakan, sebagai perusahaan yang menerapkan asas Good Corporate Governance (GCG) pihaknya mendukung kebijakan pemerintah yang akan mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik, dan pada akhirnya memiliki efek positif ke industri nikel. (*)

(A. Hilmi)