Utang pemerintah mengalami kenaikan! Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan posisi utang pemerintah hingga 30 September 2018 sebesar Rp4.416 triliun. Sebulan sebelumnya yakni Agustus 2018, posisi utang berada di angka Rp4.363 triliun. Artinya dalam sebulan utang pemerintah mengalami kenaikan Rp53 triliun. Jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni September 2017, posisi utang masih sebesar Rp3.866 triliun. Dalam setahun pemerintah berhasil menaikan utang Rp550 triliun.
Baru-baru ini ada kejadian menggelikan pada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK), entah karena rendahnya kualitas koordinasi ataukah memang karakter keragu-raguan dari pemimpin, yang mana dalam hal keputusan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan jenis Premium (RON 88), kurang lebih baru satu jam diumumkan, kemudian dibatalkan kembali. Tentu bagaimanapun hal ini cukup menggoncangkan dan mengganggu bagi publik.
"Politik down grade akan bermain di tahun politik ini, politik saling menjatuhkan. Bahkan menunggu lawan tanding melakulan blunder politik. Sudah bisa dipastikan tensi politik pasti memanas dan tak bisa dihindarkan,” kata Pangi kepada aktual.com, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (14/10).
Pendapat lain disampaikan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Arsul Sani. Menurut dia, kunjungan kandidat ke pesantren harusnya tidak dipermasalahkan selama memang tidak berkampaye.
“Semestinya pelemahan nilai tukar tidak kurang dari 60 persen selama beberapa tahun tersebut secara otomatis dapat menahan laju impor sehingga bisa memperkuat neraca perdagangan maupun neraca berjalan. Tetapi apa yang terjadi, kedua neraca yang sangat penting tersebut jebol karena memang terjadi kekosongan kebijakan ekonomi untuk menahan tekanan eksternal terhadap sektor eksternal dari ekonomi Indonesia. Ketika rupiah terpuruk ke puncak 15 ribu rupiah per dollar, maka make up yang dilakukan adalah faktor eksternal. 'Ekonomi Indonesia baik-baik saja'. Anehnya, yang diterima publik betul-betul make up dan pencitraan tersebut,” jelasnya.
"Ekonomi Indonesia semakin berkembang sehat dan bonus demografi akan semakin mempercepat pertumbuhan tahun depan," kata Gurria.


























