Jakarta, aktual.com – Di tahun politik baik itu pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun pemilihan presiden (Pilpres) merupakan perhelatan yang sudah bukan rahasia umum mengalahkan lawan tanding dalam sebuah pesta demokrasi.

Segala cara dan upaya mencari titik terlemah lawan terus dilakukan untuk tampil secara de jure maupun de facto sebagai pemenang  di kontestasi politik tersebut.

Alhasil, ‘serangan’ menggunakan isu yang menjadi kelemahan lawan, incumbent ataupun penantang tentu menjadi perhatian tersendiri para kandidat, tidak terkecuali oleh para pendukung dan tim sukses pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Pilpres 2019 ini.

Namun bak layaknya driver yang handal dalam melewati halang rintang di dalam perjalannya, tentu selalu memiliki manuver untuk menghindar. Begitu juga dalam kontestasi demokrasi yang tengah berlangsung di Indonesia saat ini, mungkin bisa dikatakan proses politik hari ini sebagai ajang unjuk kepiawaian sejauhmana ilmu politik yang dimiliki.

Salah satunya, bagaimana para kandidat maupun kelompoknya bertahan maupun berkilah dari isu yang ditujukan untuk menjatuhkan. Sehingga, rangkaian isu tidak kemudian membentuk persepsi atau bahkan langsung dilupakan publik, yang kemudian tidak berpengaruh terhadap elektabilitas.

Kasus pembohongan publik yang dilakukan seorang aktivis Ratna Sarumpaet yang juga merupakan tim juri kampanye nasional pasangan Prabowo Subianto-SandiagaUno, atas kasus dugaan penganiyaan oleh orang tidak dikenal menjadi ujian terberat bagi pasangan nomor urut 02 itu.

Bagaikan disambar petir siang hari, pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa tidak ada penganiayaan yang dialaminya tersebut pun membuat posisi kubu Prabowo-Sandi menjadi sangat terpojok. Alhasil, kesempatan yang awalnya dugaan kasus penganiyaan tersebut mengarah pada tindakan kekerasan yang dilakukan kubu petahana. Namun, ibarat ‘senjata makan tuan’ posisi itu pun terjungkal 360 dejarat, justru berbalik menyerang.

Seolah tidak mau tertinggal momentuM untuk membalikan keadaan, dan membersihkan nama baik dari tuduhan yang telah dialamatkan kepada kubu petaha, sekaligus menyerang balik dengan kekuatan penuh. Kubu tim kampanye nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf pun langsung gunakan semangat penuh.

Sekertaris Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf, Hasto Kristiyanto misalnya. Ia menilai terbongkarnya pemalsuan kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet tidak cukup hanya diselesaikan melalui permintaan maaf ke Prabowo Subianto dan Amien Rais saja.

“Kebohongan publik yang dilakukan telah mengganggu konsentrasi bangsa yang sedang berduka akibat gempa. Terlebih, dengan konfrensi pers Pak Prabowo yang secara langsung atau tidak langsuhg telah menuduh pemerintahaan Pak Jokowi melakukan kekerasan, bahkan penganiayaan terhadap ibu berusia 70 tahun itu,” kata Hasto, di Jakarta, Kamis (4/10).

Akan tetapi, meski mendapatkan serangan bertubi-tubi, bukan politisi namanya jika kemudian menyerah dengan keadaan. Prabowo Subianto dan tim-nya pun tidak memerlukan waktu lama untuk merespon pasca pengakuan secara langsung di media atas pengakuan dirinya membuat sensasi penganiayaan tersebut.

Calon Presiden Prabowo Subianto meminta maaf karena ikut mengabarkan soal penganiyaan yang dialami Ratna Sarumpaet. Yang ternyata pengakuan Ratna itu hanya bohong belaka.

“Saya atas nama pribadi dan sebagai pimpinan dari tim kami ini, saya minta maaf ke publik bahwa saya telah ikut menyuarakan sesuatu yang belum diyakini kebenarannya,” kata Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Ia mengungkapkan, saat mendengar cerita yang diungkapkan Ratna soal penganiyaan ketika itu, terlebih melihat wajah seorang ibu berumur 70 tahun dalam kondisi bengkak disekujur wajahnya, tentu memiliki rasa iba.

“Akibat itu, kami merasa sangat terusik, sangat prihatin,” tambahnya.

Giliran Petahana

(Novrizal Sikumbang)