Jakarta, aktual.com – Para pekerja kemanusiaan memperingatkan tentang minimnya perawatan prostetik dan rehabilitasi bagi para penyandang amputasi di Gaza, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), Senin (4/5).
OCHA mengatakan para mitranya melaporkan lebih dari 6.600 penyandang amputasi, dengan satu di antara lima penyandang adalah anak-anak, membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi, termasuk ribuan penyandang yang baru diamputasi sejak Oktober 2023. Namun, saat ini hanya tersedia delapan teknisi prostetik untuk menangani kebutuhan tersebut.
“Dengan kekurangan parah tenaga spesialis dan pembatasan masuknya bahan prostetik ke wilayah itu, dibutuhkan waktu lima tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan saat ini, dengan asumsi tidak ada lagi kasus amputasi baru,” kata OCHA, mengutip mitra-mitranya.
“Teknisi prostetik internasional sangat dibutuhkan, begitu pula perluasan kapasitas bengkel pembuatan prostetik serta kelancaran masuknya bahan prostetik, yang masih dibatasi oleh otoritas Israel.”
Dalam sebuah unggahan di X pada akhir pekan lalu, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher mengatakan komunitas kemanusiaan terus bekerja untuk membantu warga Palestina di Gaza.
Upaya tersebut telah menyelamatkan nyawa, mencegah kelaparan, dan memulihkan layanan penting. Dia mengatakan masih banyak yang harus dilakukan, termasuk akses berkelanjutan, perlindungan warga sipil, netralitas, dan kemitraan.
Kepala bantuan PBB mengatakan mitra-mitra kemanusiaan badan dunia tersebut telah mengirimkan bantuan tenda darurat, bahan penutup, perlengkapan tidur, serta persediaan lainnya kepada hampir 4.500 rumah tangga.
Fletcher mengatakan beberapa tempat penampungan darurat yang telah diperbaiki di Khan Younis “dibuat dari bahan-bahan yang tersedia seperti terpal plastik” untuk memberikan solusi cepat bagi keluarga yang mengungsi dan dapat ditingkatkan segera setelah bahan-bahan yang dibatasi akhirnya diizinkan masuk.
“Mitra kesehatan melaporkan kekhawatiran tentang penyakit kulit dan masalah medis lainnya yang terkait dengan keberadaan hama dan hewan pengerat,” tambahnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi






















