Jakarta, Aktual.com – Ketua Hiswana Migas, Eri Purnomohadi mengatakan ketergantungan Indonesia kepada LPG impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih terhitung relatif besar. Akibat pembelian migas Pertamina tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap jatuhnya nilai tukar rupiah. Hal ini tidak lain karena devisa yang dikeluarkan terhitung dalam jumlah besar.

“LPG sebagian impor, akan menguras devisa, termasuk kurs rupiah. Pasalnya belanja Pertamina terhadap impor crude, mempengaruhi fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar. Oleh karena itu kita butuh efisiensi subsidi, kalau subsidi saat ini sistem terbuka kan nggak tepat sasaran. Kebocoran itu kan besar, triliunan,” katanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (16/10).

Sementara itu, pemerintah telah mempersiapkan skema baru mekanisme subsidi LPG 3 Kg secara tertutup. Mekanisme secara e-money atau tanpa uang tunai ini akan diberlakukan pada 2017.

Komisi VII DPR RI, Dito Ganinduto menyampaikan kebijakan ini telah mendapat persetujuan antara pihak pemerintah dan DPR. Dalam RAPBN 2017, mereka telah menganggarkan dana subsidi sebesar Rp20 triliun.

“Subsidi telah disetujui Rp20 triliun. Saat ini masih tahap ujicoba di Tarakan, dan juga masih verifikasi masyarakat miskin dan usaha mikro yang akan menerima subsidi. Kedepan akan diterapkan subsidi tertutup secara nasional,” kata Dito.

(Laporan: Dadangsah Dapunta)

(Dadangsah Dapunta)

(Eka)