Ibn Hajar Al-Haitami

Jakarta, Aktual.com– Seorang Ulama besar asal Mesir bernama Ibnu Hajar al-Haitami (909-973 H) memiliki karamah yang luar biasa. Lahir di Mahallah Abi al-Haitam, Mesir bagian barat pada Rajab 909 H dan wafat di Makkah pada bulan rajab 973 H.

Ibnu Hajar hidup dalam kemiskinan selama 4 tahun. Beliau tak pernah makan-makanan yang enak karena tidak memiliki uang untuk membelinya, walaupun sesungguhnya ia sangat menginginkannya.

Suatu ketika, sang istri sejak lama ingin pergi mandi di pemandian umum khusus air panas, akan tetapi beliau tidak mampu membelikan tiketnya. Beliau berkata kepada istrinya, “Bersabarlah istriku, saya kumpulkan uang dulu untuk ongkos kesana.”

Biasanya setiap beliau mendapatkan rezeki, Beliau akan menyisakan uangnya untuk diberikan kepada Istrinya agar digunakan untuk pergi ke pemandian air panas itu. Setelah uangnya terkumpul, istrinya pergi ke pemandian air panas, ketika sampai di sana dia meminta penjaganya untuk membukakan pintu untuknya.

“Hari ini, kami tidak membukakan pintu untuk siapapun karena Istri Syekh Muhamamd ar-Romli sedang berada di dalam bersama para sahabatnya. Beliau berpesan untuk tidak membukakan pada siapapun untuk hari ini dan beliau telah memberi kepada kami ongkos pendapatan kami pada hari ini yaitu 25 riyal. Jika engkau ingin masuk ke pemandian datanglah besok pagi,” ujar Penjaga Pemandian.

Istrinya pulang dan menemui suaminya dengan perasaan campur aduk kemudian ia mengembalikan uangnya kepada Ibnu Hajar. Istrinya menceritakan bahwa Istri dari Syekh ar-Romli pemilik ilmu pada saat itu yang menyewa pemandian pada hari itu dan tidak mengizinkan seorang pun masuk kesana.

Karena hal itu, Istrinya menghardik Ibnu Hajar, “Mana ilmu yang engkau punya? Sudah fakir, kesulitan, susah payah sendiri dan tidak mendapatkan sesuatupun dari ilmumu. Ambilah uangmu yang engkau kumpulkan berhari-hari ini,” kata istrinya.

“Aku tidak menghendaki dunia dan ridho atas apa yang Allah tetapkan kepadaku di dalamnya, sedangkan engkau jika menginginkan dunia, mari kita ke sumur Zamzam,” ucap Al-Haitami.

Keduanya pun pergi ke sumur Zamzam, ketika sampai disana beliau langsung menimbali sekali, ternyata satu timbaan isinya penuh dengan uang dinar. Beliau berkata, “Apakah cukup segini?”

“Kurang,” jawab Istrinya.

Kemudian beliau menimbali sekali lagi, Beliau berkata, “Apakah cukup?”

“Aku ingin tiga timbaan,” balas Istrinya.

Setelah menimba untuk ketiga kalinya Beliau berkata kepada Istrinya, “Aku suka keadaan fakir berdasarkan pilihanku sendiri, kupilih untuk diriku sendiri apa yang ada di sisi Allah. Adapun dunia maka semuanya bagiku, dunia lewat, umurnya pendek dan kehidupannya hina, dan sekarang aku memiliki dua pilihan untuk dirimu.

Kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur Zamzam dan engkau masih bersamaku atau kau bawa semua ini, kau pulang ke rumah keluargamu dan kau ambil talak dariku, karena aku tidak menginginkan dunia,”

Istrinya berkata, “Bagaimana kalau kita nikmati saja semua ini, seperti yang orang lain lakukan.”

Beliau berkata, “Tidak mau,”

Istrinya pun selalu melakukan penawaran kepada Ibnu Hajar. Akan tetapi, Ibnu Hajar tetap menolaknya walaupun hanya sekeping yang dibawa. Pada akhirnya istrinya pun menyerah dan mengembalikan semuanya sambil berkata,

“Kita kembalikan semuanya ke dalam sumur, aku tidak ingin berpisah denganmu karena kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Engkau telah memperlihatkan karomah ini dan kita berpisah di hari ini? aku tidak mau.Aku memilih untuk bersabar saja bersamamu. Aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini.”

Wallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)